Posted by: ABe on: October 22, 2008
”Kontribusi sektor olahraga pendidikan kita terhadap prestasi olahraga Indonesia saya kira sangat besar. Di masa depan sektor ini akan menjadi penting sebab menyangkut usia-usia yang masih bisa dikembangkan.
Mereka masih berada pada usia produktif dengan masa edar cukup panjang. Misalnya anak-anak SD dan SMP, peluang mereka masih tinggi. Itu usia-usia saat fondasi dibentuk. Beda dengan usia SMA, yang masuk kategori matang, sudah jadi objek para pemandu bakat.
Tahun terakhir lalu kami sudah fokus pada 15 cabang. Ke depan kami akan menambah cabang-cabang potensial asal biayanya ada. Faktanya di tingkat SD kita bisa jadi juara ASEAN Primary School Sport Olympiad (APSSO II/2008). Kita akan coba mempertahankan pada APSSO berikut.
Dukungan ilmu pengetahuan alias iptek sangat vital. Namun, itu kembali pada komitmen untuk menambah dana agar bisa mengembangkan iptek. Jerman atau Cina contohnya. Prestasi olahraga mereka begitu luar biasa berkat dukungan iptek. Hasil iptek itu diaplikasikan pada para atlet mereka dan efeknya amat terasa, terutama untuk cabang-cabang terukur.
Semangat Persatuan
Ditambah kolaborasi yang baik antara Depdiknas, Menegpora, dan KONI, prestasi kita akan semakin baik. Selama ini kita selalu bergandengan tangan. Tiap kali menyelenggarakan event, kami berkonsultasi dengan mereka.
Soal Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional, yang mewajibkan pemerintah lebih memperhatikan olahraga pendidikan serta naiknya alokasi dana pendidikan di APBN, menurut saya akan mampu mendongkrak prestasi olahraga nasional. Tanpa dukungan dana, prestasi tinggi hanya mimpi.
Contohnya Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (OOSN I/2008), yang baru kita gelar bulan lalu, biayanya puluhan milar. Bayangkan berapa biaya transportasi yang dibutuhkan untuk lima ribu orang dari seluruh Indonesia lalu akomodasi selama seminggu di Ragunan.
Idealnya mereka tidak perlu kita biayai, seperti di Olimpiade Beijing lalu. Namun, kalau itu diterapkan, yang datang hanya sekolah-sekolah di Jawa. Kontingen dari Maluku dan Papua tidak akan mampu. Padahal, event itu tidak semata-mata berkompetisi olahraga demi prestasi. Kami pun membawa semangat persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).”
Posted by: ABe on: October 22, 2008
‘Berbicara soal olahraga dan pendidikan, kita harus mengacu pada Pasal 17 UU Sistem Keolahragaan Nasional, yang membagi olahraga dalam tiga kategori: sebagai pendidikan, rekreasi, dan prestasi. Pembinaan ketiga bidang itu seharusnya bersambung, meskipun dilakukan terpisah-pisah.
Olahraga sebagai sebuah pendidikan masuk dalam level terbawah, yaitu kebugaran jasmani pada siswa sekolah. Menurut pasal 20 UU Sistem Pendidikan Nasional, peserta didik harus memiliki kebugaran jasmani bagus. Setelah itu baru siswa bersangkutan dapat masuk pendidikan olahraga. Di sekolah-sekolah umum, olahraga masuk pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani menyangkut tiga unsur: disiplin, kerja sama, dan sehat.
Kalau kita bicara soal olahraga sebagai pendidikan, cukup berhenti sampai di situ: disiplin, kerja sama, dan sehat. Begitu kita bicara soal olahraga yang sesungguhnya, kita akan berbicara soal prestasi. Itu bedanya dengan olahraga sebagai pendidikan karena dalam olahraga yang lebih spesifik akan dikenal istilah berlatih dan prestasi. Di Indonesia memang pembagian tugas untuk ini masih rancu.
Bakat-bakat olahraga yang bagus pada siswa sekolah seharusnya diarahkan untuk masuk Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar atau PPLP. Di situ sistem pembinaan serta kompetisinya sudah jelas dan tersebar di 33 provinsi. Sejak tahun lalu Kantor Menegpora sudah membenahi sumber daya manusia PPLP setelah menjumpai fakta di lapangan bahwa 30 persen pelatih tidak memiliki sertifikasi sebagai pelatih olahraga. Mereka kebanyakan guru olahraga atau karyawan dinas olahraga.
Sekolah Khusus Olahragawan
Jika ingin menyinergikan pendidikan dan olahraga, perlu diaktifkan lagi sekolah-sekolah khusus olahragawan selain PPLP. Dahulu kita mengenal Sekolah Guru Olahraga dan Sekolah Menengah Olahraga Atas, SGO dan SMOA.
Jika dihubungkan dengan keberadaan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional atau O2SN saat ini, saya terbuka saja. Event itu kan pengganti Porseni. Kalau ingin bicara soal prestasi, silakan bicara soal Pekan Olahraga Pelajar Nasional. Di situlah akan diadu antara hasil pembinaan O2SN dan Pekan Olahraga Pelajar Wilayah.
Dari hasil PON Kaltim, terbukti bahwa 40 persen peraih medali di PON adalah mantan didikan PPLP maupun yang masih tercatat sebagai siswa PPLP. Di PPLP memang dianut pembagian 60 persen latihan dan 40 persen belajar. Jadi memang kemampuan olahraga yang dituntut lebih, tetap tanpa mengesampingkan kemampuan intelektual.”
(Sumber: Bolanews.com)
Posted by: ABe on: January 29, 2011
Ketika Duka Menyeruak – Ebiet g ade
Lirik Lagu & Kord Gitar Ketika Duka Menyeruak – Ebiet g ade
ketika engkau datang menawarkan gagasan
kulihat di matamu tak ada yang kau sembunyikan
aku mulai bertanya, “di mana cakrawalamu?”
langit seketika cerah tatkala engkau tersenyum
kata-katamu mengalir, merambah nadi dan jiwa
ketika angin terhenti, memberi nafas di dada ho ho
kata-katamu memberi sejuta warna dan makna
bagi kehidupanku, bagi perjalananku
di bumi fana dan di alam kekal
ketika engkau pergi langit bumi pun menangis
jejak pengembaraanmu terpatri dalam di dadaku
kata-katamu mengalir, merambah nadi dan jiwa
ketika angin terhenti, memberi nafas di dada ho ho
kata-katamu memberi sejuta warna dan makna
bagi kehidupanku, bagi perjalananku
di bumi fana dan di alam kekal
di bumi fana dan di alam keka
Posted by: ABe on: June 7, 2010
Posted by: ABe on: April 10, 2009
Posted by: ABe on: February 26, 2009
Gaya Komando
1. Anatomi Gaya Komando
a. Dalam setiap anatomi gaya, Mosston meninjau dari tiga perangkat keputusan: pra-pertemuan, selama pertemuan berlangsung, dan pasca pertemuan. Keputusan yang dibuat guru dan yang akan diteruskan kepada siswa dinyatakan sebagai berikut:
G = Keputusan Guru
S = Keputusan Siswa
b. Untuk gaya komando atau gaya perintah ini, semua keputusan diambil oleh guru. Jadi diagram tentang keputusan-keputusan untuk gaya komando ini adalah sebagai berikut:
Pra-pertemuan G
Dalam pertemuan G
Pasca pertemuan G
2. Sasaran Gaya Komando
a. Bagian ini akan merinci peranan guru, peranan siswa dan hasil yang dicapai karena penggunaan gaya yang diuraikan.
b. Dengan menggunakan gaya komando, maka sasaran yang dicapai akan melibatkan siswa yang akan mengikuti petunjuk-petunjuk guru, dengan sasaran-sasaran sebagai berikut:
(1) Respons langsung terhadap petunjuk yang diberikan
(2) Penampilan yang sama / seragam
(3) Penampilan yang disinkronkan
(4) Penyesuaian
(5) Mengikuti model yang telah ditentukan
(6) Mereproduksi model
(7) Ketepatan dan kecermatan respons
(8) Meneruskan kegiatan dan tradisi kultural
(9) Mempertahankan tingkat estetika
(10) Meningkatkan semangat kelompok
(11) Penggunaan waktu secara efisien
(12) Pengawasan keamana
3. Menyusun Pelajaran Gaya Komando
a. Semua keputusan pra-pertemuan dibuat oleh guru
(1) Pokok bahasan
(2) Tugas-tugas
(3) Organisasi
(4) Dan lain-lain
b. Semua keputusan selama pertemuan berlangsung dibuat oleh guru:
(1) Penjelasan peranan guru dan siswa
(2) Penyampaian pokok bahasan
(3) Penjelasan prosedur organisasi
(a) Regu, kelompok
(b) Penempatan dalam wilayah kegiatan
(c) Perintah yang harus diikuti
(4) Urutan kegiatan
(a) Peragaan
(b) Penjelasan
(c) Pelaksanaan
(d) Penilaian
c. Keputusan pas ca-pertemuan
(1) Umpan balik kepada siswa,
(2) Sasarannya: harus memberi banyak waktu untuk pelaksanaan tugas.
4. Implikasi Penggunaan Gaya Komando
a. Standar penampilan sudah mantap dan pada umumnya satu model untuk satu tugas.
b. Pokok bahasan dipelajari secara meniru dan mengingat melalui penampilan.
c. Pokok bahasan dipilih-pilah menjadi bagian-bagian yang dapat ditiru.
d. Tidak ada perbedaan individual diharapkan menirukan model.
5. Unsur-unsur Khas dalam Pelajaran dengan Gaya Komando
a. Semua keputusan dibuat oleh guru
b. Menuruti petunjuk dan melaksanakan tugas merupakan kegiatan utama dari siswa.
c. Menghasilkan tingkat kegiatan yang tinggi.
d. Dapat membuat siswa merasa terlibat dan termotivasi
e. Mengembangkan perilaku berdisiplin karena prosedur yang telah ditetapkan.
6. Saluran-saluran Pengembangan Gaya Komando
a. Menurut Mosston, selama masa belajar-mengajar, setiap orang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan fisik, sosial, emosional, dan kognitifnya.
b. Mosston berbicara tentang empat saluran perkembangan:
1) Saluran fisik meningkatkan dengan pesat selama menggunakan Gaya Komando.
2) Saluran sosial-terbatas
3) Saluran emosional terbatas
4) Saluran kognitif terbatas.
Posted by: ABe on: January 22, 2009
TAKSONOMI BLOOM
Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.
Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif),
yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
2 Affective Domain (Ranah Afektif)
berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor)
berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
Beberapa istilah lain yang juga menggambarkan hal yang sama dengan ketiga domain tersebut di antaranya seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu:
cipta,
rasa, dan
karsa.
Selain itu, juga dikenal istilah:
penalaran,
penghayatan, dan
pengamalan.
Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku ang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai “pemahaman” yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan “pengetahuan” yang ada pada tingkatan pertama.
DomainKognitif
Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian: Bagian pertama berupa adalah Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6)
1. Pengetahuan (Knowledge)
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk, dsb.
2. Pemahaman (Comprehension)
Dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dsb. Sebagai contoh, orang di level ini bisa memahami apa yg diuraikan dalam fish bone diagram, pareto chart, dsb.
3. Aplikasi (Application)
Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram atau pareto chart
4. Analisis (Analysis)
Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.
5. Sintesis (Synthesis)
Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.
6. Evaluasi (Evaluation)
Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yg sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dsb
Domain Afektif
1. Penerimaan (Receiving/Attending)
Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.
2. Tanggapan (Responding)
Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.
3. Penghargaan (Valuing)
Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.
4. Pengorganisasian (Organization)
Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.
5. Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a
Value or Value Complex)
Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya
Domain Psikomotor
Rincian dalam domain ini tidak dibuat oleh Bloom, tapi oleh ahli lain berdasarkan domain yang dibuat Bloom.
1. Persepsi
Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.
2. Kesiapan (Set)
Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan
3. Guided Response (Respon Terpimpin)
Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.
4. Mekanisme (Mechanism)
Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.
5. Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response)
Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.
6. Penyesuaian (Adaptation)
Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.
7. Penciptaan (Origination)
Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu.
Posted by: ABe on: January 22, 2009
BASIC STEPS
1. Marching..\vidio\KAKI\marching\marching.html
Adalah gerakan jalan di tempat dengan
2. Jogging..\vidio\KAKI\jogging\jogging.html
Gerakan jogging ini ditandai dengan
3. Kicking..\vidio\KAKI\kick\kick.html
Gerakan kicking dalam senam aerobik berbeda dengan teknik gerakan dalam olahraga lainya sepeti kicking pada permainan sepak bola atau olahraga bela diri, teknik kicking dalam senam aerobik adalah dengan:
Gerakan kicking ini dilakukan dengan low impact hing intencity karena gerakan ini cukup banyak menguras tenaga, apalagi kalau melakukannya menggunakan teknik hight kick. (gambar)
4. Skiping..\vidio\KAKI\skip\skip.html
Teknik gerak kaki ini merupakan gabungan dari gerakan jogging dan kicking, gerakan ini ditandai dengan
5. Jumping Jack..\vidio\KAKI\jumping jack\jumping jack.html
Lompat kangkang itu adalah sebutan yang sudah populerdi kalangan kita untuk menjelaskan jumping jack,
6. Lunge..\vidio\KAKI\lunge\lunge.html
7. Knee Up..\vidio\KAKI\knee up\knee up.html
Teknik gerak langkah kaki tidak hanya terbatas pada tujuh teknik gerak dasar langkah kaki yang di gambarkan di atas, pada umumnya teknik gerak langkah kaki yang ada selain ketujuh gerak dasar tadi merupakan pengembangan dari gerakan marching, beberapa gerak pengembangan tersebut diantaranya:
· Single Step..\vidio\KAKI\single step ok\single step ok.html
Teknik gerak kaki melangkah satu langkah ke kanan atau ke kiri, dengan gerakan terakhir menyentuhkan bola, lutut tumpu agak ditekuk, kedua lutut merapat dan menghadap ke depan. (gambar)
· Double Step..\vidio\KAKI\double step\double step.html
Gerakan melangkah dua langkah ke kanan atau ke kiri dengan gerakan terakhir merapatkan kaki dengan menyentuhkan bola kaki, posisi lutut menghadap ke depan, lutut kaki tumpu agak ditekuk (gambar)
· Gripevine..\vidio\KAKI\grapevine(1)\grapevine(1).html
Gerakan melangkah dua langkah ke kanan atau ke kiri seperti double step tetapi dengan menyilangkan kaki ke belakang. (gambar)
· Leg Curl..\vidio\KAKI\leg cur\leg cur.html
Gerakan menekuk kaki ke arah bokong. (gambar)
· Heel Touch..\vidio\KAKI\heel touch\heel touch.html
Gerakan menyentuhkan tumit kaki ke kanan, ke kiri atau ke depan dengan sedikit menekuk lutut tumpu, berat badan berada pada kaki tumpu. (gambar)
· Toe Touch..\vidio\KAKI\heel touch\heel touch.html
Gerakan menyentuhkan bola kaki ke depan ,kanan atau kiri dengan sedikit menekuk lutut tumpu, berat badan berada pada kaki tumpu. (gambar)
· Tap Side..\vidio\KAKI\leg cur\leg cur.html
Gerakan menyentuhkan bola kaki ke kanan atau kiri dengan sedikit menekuk lutut tumpu, berat badan berada pada kaki tumpu. (gambar)
· V-Step (easy walk)..\vidio\KAKI\v step basic\v step basic.html
Gerakan membetuk segitiga atau langkah segi tiga, ke depan atau ke belakang dengan tetap menjaga arah lutut ke depan. (gambar)
· Mambo..\vidio\B. Mov html\mambo cha-cha\mambo cha-cha.html
Gerakan melangkahkan salah satu kaki ke depan dan ke belakang dengan kaki yang lainya tetap berada di tempat. (gambar)
· Squat..\vidio\KAKI\squat\squat.html
Gerakan membuka kaki selebar satu setengah lebar bahu , kemudian menekuk kedua lutut (half squat atau full squat) dengan posisi ujung lutut tidak melebihi ujung jari kaki. (gambar)
· Twist (hip shake)
Gerakan memutar pinggul ke kiri atau ke kanan, gerakan ini bisa dilakukan dengan cara low impact ataupun hight impact. (gambar)
· Bounching..\vidio\KAKI\bouching\bouching.html
Gerakan yang dilakukan dengan cara menekuk dan meluruskan lutut atau gerakan memamtul. (gambar)
· On The Spot
Gerakan yang dilakukan dengan tanpa memindahkan kedua kaki. (gambar)
ARMS MOVEMENT
a. Bicep Curl
Gerakan menekuk (flexi) persendian siku dan meluruskanya kembali (extensi), gerakan ini berfungsi untuk melatih otot lengan depan (bicep)
b. Rowing
Gerakan mendayung yang dominan melatih otot samping badan (latissimus)
c. Up right row
Gerakan mengangkat tangan daridepan perut bawah ke arah dada.
Gerakan mendayung yang dominan melatih otot samping badan (latissimus)
d. Chest Pres
Gerakan mendorong lengan ke depan dada, gerakan ini berguna untuk melatih otot dada (pectoral)
e. Chest pull
Gerakan yang bentuknya sama dengan chest pres, tetapi pada chest pull aksen gerakannya ke arah dada.
Gerakan membuka dan memnutup lengan nbawah di depann wajah., gerakan ini berguna untuk melatih otot dada.
g. Tricep extention
Gerakam meluruskan lengan, gerakan ini bertujuan untuk melatih otot lengan belakang (tricep)
h. Flexex
Gerakan menekuk dan meluruskan lengan , gerakan ini bertujuan untuk melatih otot bahu (deltoid)
Gerakan mendorong lengan ke atas yang bertujua nuntuk melatih otot bahu (deltoid)
j. Arm swing
Gerakan mengayun lengan baik dalam keadaan lurus atau tertekuk, gerakan ini bertujuan untuk melatih otot bahu (deltoid)
k. Pounching
Gerakan-gerakan senam aerobik yang mengadop gerakan beladiri seperti jab, uper cut hook.
l. Pumping
Gerakan mendorong kedua lengan ke bawah seperti memompa (berlawanan dengan gerakan up right row)
Posted by: ABe on: November 4, 2008
PEDOMAN MODIFIKASI PERMAINAN BAGI ANAK-ANAK USIA SEKOLAH DASAR
Pada hakikatnya permainan suatu cabang olahraga dirancang dengan mengunakan pendekatan “permasalahan yang perlu dipecahkan”. Sebagai contoh, dalam permainan bola voli salah satu masalah dasar yang harus dipecahkan adalah bagaimana caranya memukul bola agar dapat melalui net yang membentang di tengah lapangan dengan ketinggian tertentu. Beberapa peraturan utama di dalam permainan dibuat untuk mengatur bagaimana cara memecahkan “berbagai permasalahan dasar” dalam permainan tersebut. Bila aturan utama diubah, maka permainan juga akan berubah atau tidak sesuai lagi dengan hakikat dari permainan tersebut. Berbeda halnya bila yang diubah adalah peraturan yang “secondary” atau peraturan yang bukan merupakan aturan utama (Siedentop, Hastie & van der Mars, 2004). Misalnya permainan kasti, hakikat permainan ini adalah ‘lempar-tangkap bola’ atau aturan utamanya adalah melempar bola ke arah teman satu regu dan/atau menangkap bola yang dilempar teman seregu dalam rangka ‘mendekatkan’ bola sedekat mungkin ke arah lawan yang sedang berlari agar dapat dimatikan. Bila aturan utama ‘lempar-tangkap’ ini diubah menjadi ‘tendang bola’, maka nama permainan tersebut bukan lagi kasti. Tetapi bila yang diubah atau yang dimodifikasi adalah peraturan yang secondary seperti ukuran lapangan, jenis bola yang digunakan, sasaran atau bagian tubuh yang boleh dilempar untuk mematikan lawan, maka permainan tersebut tetap dapat disebut sebagai kasti.
Modifikasi permainan cabang olahraga, tidak ditujukan untuk mengubah hakikat cabang olahraga tersebut, tetapi untuk menyesuaikan situasi dan kondisi permainan agar dapat dimainkan dan dinikmati oleh kelompok pemain tertentu, yang dalam hal ini adalah anak-anak usia sekolah dasar. Modifikasi dilakukan semata untuk mengurangi ‘tingkat tantangan’ dari permainan tersebut agar sesuai untuk dimainkan anak-anak dalam kelas pendidikan jasmani. Dan modifikasi hendaknya memang diarahkan pada aturan-aturan yang secondary agar hakikat atau ciri khas dari permainan tersebut tidak hilang. Beberapa peraturan secondary yang dapat dimodifikasi, di antaranya adalah:
· Ukuran, berat, bahan atau bentuk peralatan yang digunakan
· Area atau tempat permainan serta ukuran lapangan
· Lamanya waktu bermain
· Jumlah pemain dalam satu regu
· Peraturan dalam bermain
· Besarnya gawang/keranjang, tinggi net atau rintangan
· Rotasi atau posisi pemain
· Cara memperoleh nilai
· Dan lain sebagainya
STRATEGI UNTUK MEMODIFIKASI PERMAINAN
1. Buat agar skor/nilai mudah diperoleh
Jika sedang bermain, anak-anak sangat senang bila dapat memperoleh skor. Skor merupakan salah satu hal yang penting dan strategis untuk memberikan ukuran ‘keberhasilan’ bagi anak-anak. Skor juga dapat digunakan sebagai penguatan atau umpan untuk membuat anak-anak mau belajar, mengulang dan mempraktekkan teknik dan taktik secara benar. Bila skor sulit untuk dihasilkan, anak-anak akan cepat bosan dan menjadi frustasi.
2. Perlambat gerak bola atau objek lain yang bergerak dalam permainan
Tidak mudah bagi anak-anak untuk melakukan suatu teknik gerak dengan benar jika mereka tidak dalam posisi untuk dapat melakukannya secara tepat. Dalam permainan yang menggunakan objek bergerak, seperti bola atau kok dan mengharuskan pemainnya untuk selalu bergerak, anak-anak yang bermain dihadapkan pada situasi yang mengharuskannya mengantisipasi datangnya objek yang bergerak, baik berupa bola, lawan atau teman satu regu. Situasi ini bukan merupakan hal mudah untuk diadaptasi dalam waktu singkat oleh anak-anak. Oleh sebab itu, disarankan untuk memodifikasi peraturan sedemikian rupa agar pergerakan yang terjadi di dalam permainan tidak terlalu cepat sehingga semua pemain memiliki kesempatan untuk melakukan antisipasi.
3. Perbesar peluang bagi anak-anak untuk mempraktekkan teknik dan taktik yang diajarkan.
Cara yang paling tepat untuk mempraktekkan strategi ini adalah memperkecil jumlah pemain, dengan demikian anak-anak/pemain memperoleh kesempatan yang lebih banyak untuk menampilkan atau mempraktekkan teknik gerak dan taktik permainan yang diajarkan.
Posted by: ABe on: November 4, 2008
Model Pengajaran Pendidikan Jasmani
Dari literatur diperoleh gambaran tentang model pengajaran pendidikan jasmani. Beberapa tahun terakhir ini dikembangkan berbagai model pengajaran pendidikan jasmani dan diterapkan dengan berhasil di lapangan. Beberapa model pengajaran tersebut dikemukakan oleh Siedentop, Mand, dan Taggart (1986) sebagai berikut:
1) Pengajaran langsung/perintah (Direct instruction)
2) Pengajaran tugas / pos (Task/station teaching)
3) Pengajaran berpasangan kelompok (Reciprocal/group teaching)
4) Pengajaran sistem kontrak (Personalyzed system of Instruction (PSI)/Mastery Teaching)
5) Manajemen Kontingensi (Contingensi Management)
Salah satu spectrum model pengajaran lain juga dikemukakan Mosston (1996). Model Mosston ini didasarkan atas asumsi bahwa keputusan terhadap proses dan produk pengajaran hendaknya bergeser dari pengajaran terpusat pada guru ke terpusat pada anak, dari siswa terikat menjadi siswa bebas (aktif). Mosston mengklasifikasi model pengajaran berdasarkan hasil analisa siapa yang membuat keputusan. Klasifikasi model pengajaran tersebut adalah sebagai berikut.
Posted by: ABe on: November 4, 2008
Profil Kompetensi Guru Pendidikan Jasmani
Mengapa Anda ingin menjadi guru (termasuk guru Penjas)? Bagaimanakah penilaian Anda terhadap profesi guru? Apakah Anda bangga menjadi guru mata pelajaran Penjas? Kompetensi apakah yang harus Anda dimiliki untuk mampu mengajar Penjas di sekolah dasar secara profesional? Pertanyaan-pertanyaan ini membantu Anda dalam rangka mengidentifikasi “pengetahuan” membantu Anda sendiri sehingga memudahkan Anda dalam menentukan filsafat pendidikan jasmani.
Seorang guru Penjas seharusnya memiliki kemampuan dasar umum yang mencakup: penguasaan dan pengorganisasi materi yang hendak diajarkan dan penguasaan metode penyampaian seta penilaiannya. Secara rinci karakteristik yang seharusnya dimiliki guru Penjas sebagai berikut:
1) Memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi karakteristik anak tentang:
a) pertumbuhan fisik,
b) perkembangan mental,
c) perkembangan sosial dan emosional sesuai dengan fase-fase pertumbuhan.
2) Mampu membangkitkan dan memberi kesempatan pada anak untuk berkreatif dan aktif dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani, serta mampu menumbuhkembangkan potensi kemampuan dan keterampilan motorik anak.
3) Mampu memberikan bimbingan dan pengembangan anak dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan jasmani.
4) Mampu merencanakan, melaksanakan, mengendalikan dan menilai serta mengoreksi dalam proses pembelajaran bidang studi pendidikan jasmani di sekolah dasar.
5) Memiliki pemahaman dan penguasaan keterampilan gerak
6) Memiliki kemampuan tentang unsur-unsur kondisi fisik
7) Memiliki kemampuan untuk menciptakan, mengembangkan, dan memanfaatkan faktor-faktor lingkungan yang ada dalam upaya mencapai tujuan pendidikan jasmani.
8) Memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi potensi peserta didik dalam dunia olahraga.
9) Memiliki kemampuan untuk menyalurkan hobinya peserta didik dalam dunia olahraga.
10) Memiliki kemampuan untuk menyalurkan hobinya dalam olahraga.
Posted by: ABe on: November 4, 2008
Pendidikan jasmani memiliki tujuan yang berbeda dengan pelatihan jasmani seperti halnya dalam olahraga prestasi. Pendidikan jasmani diarahkan pada tujuan secara keseluruhan (multilateral) seperti halnya tujuan pendidikan secara umum.
Pendidikan jasmani merupakan bagian dari pendidikan secara umum. Ia merupakan salah satu dari subsistem-subsistem pendidikan. Pendidikan jasmani dapat didefinisikan sebagai suatu proses pendidikan yang ditujukan untuk mencapai tujuan pendidikan melalui gerakan fisik. Telah menjadi kenyataan umum bahwa pendidikan jasmani sebagai satu kenyataan umum bahwa pendidikan jasmani sebagai satu substansi pendidikan mempunyai peran yang berarti mengembangkan kualitas manusia Indonesia.
Sebagaimana diterapkan dalam Undang-Undang RI. Nomor II Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa tujuan pendidikan termasuk pendidikan jasmani di Indonesia adalah pengembangan manusia Indonesia seutuhnya ialah manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Apabila Anda bertanya kepada guru Penjas tentang apa tujuan yang hendak dicapai? Jawabannya mungkin bervariasi. Secara ideal, jawaban tersebut terjabar seperti butir-butir berikut:
1) Perkembangan Pribadi
a) Pertumbuhan fisik optimal
b) Sehat fisik, mental, sosial, dan spiritual
c) Kesegaran jasmani optimal
d) Cerdas
e) Kreatif dan inovatif
f) Terampil dalam gerak dan memecahkan masalah
g) Jujur, disiplin, percaya diri, dan tanggung jawab
2) Hubungan Antar Pribadi dan Ling
a) Hormat pada sesama
b) Gotong royong
c) Luwes (mudah menyesuaikan diri)
d) Komunikatif dalam ide (konsep) dan pemikiran
e) Etika (sopan santun)
f) Menghargai kondisi lingkungan
g) Melestarikan lingkungan yang sehat dan harmonis
3) Ketahanan Nasional
Politik:
a) Cinta tanah air
b) Demokrasi Pancasila
c) Loyal pada Pancasila dan UUD
Ekonomi
a) Penguasaan informasi dan tek
b) Etos kerja
Sosial Budaya
a) Tertib hukum
b) Kesetiakawanan Sosial
Budaya
a) Menghargai karya orang lain
b) Berpikir kritis
c) Toleransi penerapan Iptek
Hankam
a) Kesiapan membela negara
b) Partisipasi dalam Hankamrata
Recent Comments