Senam Aerobik

model atau gaya mengajar

Posted on: November 4, 2008

  

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      TUJUAN PEMBELAJARAN

         Tujuan yang akan dicapai dari pembelajaran ini adalah agar para guru pendidikan jasmani dapat memahami kebutuhan akan modifikasi olahraga sebagai suatu pendekatan alternatif dalam mengajar pendidikan jasmani mutlak  perlu dilakukan. Guru dalam ini harus memiliki kemampuan untuk melakukan modifikasi keterampilan yang hendak diajarkan agar sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Ditinjau dari konteks isi kurikulum, pembelajaran yang dilakukan oleh guru pendidikan jasmani secara praktis tidak tampak tidak adanya kesinambungan. Tugas ajar yang diberikan oleh guru untuk SD, SLTP dan SLTA pada hakikatnya tidak berbeda. Demikian pula, ketidakjelasan dalam tata urutan dan tingkat kesukaran tugas-tugas ajar tersebut.

 

         Pemahaman akan modifikasi olahraga ini penting karena penerapan model pembelajaran pendidikan jasmani tradisional yang selama ini dilakukan sering mengabaikan tugas-tugas ajar yang sesuai dengan taraf perkembangan anak. Mengajar anak-anak SD disamakan dengan anak-anak SLTP, padahal model/gaya mengajar merupakan alat bagi guru untuk menyajikan materi kepada siswa yang disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan siswa dengan tetap mengorientasikan pembelajaran pendidikan jasmani berbasis pada siswa.

 

         Pada sisi lain model pendekatan modifikasi olahraga alternatif perlu dipertimbangkan untuk melaksanakan di sekolah-sekolah di Indonesia mengingat model ini memiliki keunggulan disamping kesesuaian dengan kondisi di sekolah kita. Bentuk-bentuk modifikasi baik dalam peraturan, ukuran lapangan maupun jumlah pemain tidak terperhatikan. Karena tidak dilakukan modifikasi, sering mereka tidak mampu dan gagal untuk melaksanakan tugas yang diberikan dalam bentuk kompleks oleh guru. Sebagai akibat dari kondisi seperti ini, anak dapat menjadi kurang senang terhadap Pelajaran pendidikan jasmani. Tugas-tugas  ajar yang merupakan keterampilan kompleks itu sesungguhnya hanya mampu dilakukan upaya memodifikasi tugas gerak yang memodifikasi tugas gerak yang kompleks menjadi tugas gerak yang sederhana maka dapat diramalkan tingkat keberhasilan siswa dalam menyelesaikan tugas yang harus dipelajari tergolong rendah.

 

        

B.     Ruang Lingkup Materi

         1.      Pengertian Pendidikan Jasmani

                   Pendidikan jasmani sebagai komponen pendidikan secara keseluruhan telah disadari oleh banyak kalangan. Namun, dalam pelaksanaannya pengajaran pendidikan jasmani berjalan belum efektif seperti yang diharapkan. Pembelajaran pendidikan jasmani cenderung tradisional. Model pembelajaran pendidikan jasmani tidak harus terpusat pada guru tetap pada siswa. Orientasi pembelajaran harus disesuaikan dengan perkembangan anak, isi dan urusan materi serta cara penyampaian harus disesuaikan sehingga menarik dan menyenangkan, sasaran pembelajaran ditujukan bukan hanya mengembangkan keterampilan olahraga, tetapi pada perkembangan pribadi anak seutuhnya. Konsep dasar pendidikan jasmani dan model pengajaran pendidikan jasmani yang efektif perlu dipahami oleh mereka yang hendak mengajar pendidikan jasmani.

 

                   Pengertian pendidikan jasmani sering dikaburkan dengan konsep lain. Konsep. Itu menyamakan pendidikan jasmani dengan setiap usaha atau kegiatan yang mengarah pada pengembangan organ-organ tubuh manusia (body building), kesegaran jasmani (physical fitness), kegiatan fisik (physical activities), dan pengembangan keterampilan (skill development). Pengertian itu memberikan pandangan yang sempit dan menyesatkan arti pendidikan jasmani yang sebenarnya. Walaupun memang benar aktivitas fisik itu mempunyai tujuan tertentu, namun karena tidak dikaitkan dengan tujuan pendidikan, maka kegiatan itu tidak mengandung unsur-unsur pedagogik.

 

                   Pendidikan jasmani bukan hanya merupakan aktivitas pengembangan fisik secara terisolasi, akan tetapi harus berada dalam konteks pendidikan secara umum (general education). Sudah barang tentu proses tersebut dilakukan dengan sadar dan melibatkan interaksi sistematik antar pelakunya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

 

1

                   Bagaimanakah definisi pendidikan yang kita anut? Adanya perbedaan pengertian itu pendidikan jasmani dengan istilah-istilah lain seperti gerak badan, aktivitas fisik, kesegaran jasmani, dan olahraga hendaknya tidak menimbulkan polemik yang menyesatkan. Perbedaan pendapat itu sesuatu yang wajar, yang terpenting seseorang harus melakukan pembatasan pengertian yang dianut secara jelas dan konsisten apabila membicarakan atau menuliskan berbagai istilah itu sehingga tidak rancu.

 

                   Salah satu definisi pendidikan jasmani yang patut dikemukakan adalah definisi yang dilontarkan pada Lokakarya Nasional tentang Pembangunan olahraga pada tahun 1981 (Abdul Gafur, 1983:8-9) yang dikembangkan oleh penulis (Cholik Mutohir, 1992) sebagai berikut:

­                   Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh pertumbuhan jasmani, kesehatan dan kesegaran jasmani, kemampuan dan keterampilan, kecerdasan dan perkembangan watak serta kepribadian yang harmonis dalam rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas berdasarkan Pancasila.

 

                   Secara eksplisit istilah pendidikan jasmani dibedakan dengan olahraga. Dalam arti sempit olahraga diidentikkan sebagai gerak badan. Olahraga ditilik dari asal katanya dari bahasa jawa olah yang berarti melatih diri  dan rogo (raga) berarti badan. Secara luas olahraga dapat diartikan sebagai segala kegiatan atau usaha untuk mendorong, membangkitkan, mengembangkan dan membina kekuatan-kekuatan jasmaniah maupun rokhaniah pada setiap manusia. Definisi lain yang dilontarkan pada Lokakarya Nasional Pembangunan Olahraga (Abdul Gafur, 1983:8-9) secara eksplisit berbeda dengan pendidikan jasmani. Definisi tersebut dikembangkan penulis (Cholik Mutohir, 1992) sebagai berikut:

 

                   Olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/ pertandingan, dan kegiatan jasmani yang intensif untuk memperoleh rekreasi, kemenangan, dan prestasi puncak dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila.

 

                   Dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani dan direncanakan secara sistematik bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromoskuler, perseptual, kognitif, sosial dan emosional. 

 

         2.      Tujuan Pendidikan Jasmani

                   Pendidikan jasmani memiliki tujuan yang berbeda dengan pelatihan jasmani seperti halnya dalam olahraga prestasi. Pendidikan jasmani diarahkan pada tujuan secara keseluruhan (multilateral) seperti halnya tujuan pendidikan secara umum.

 

                   Pendidikan jasmani merupakan bagian dari pendidikan secara  umum. Ia merupakan salah satu dari subsistem-subsistem pendidikan. Pendidikan jasmani dapat didefinisikan sebagai suatu proses pendidikan yang ditujukan untuk mencapai tujuan pendidikan melalui gerakan fisik. Telah menjadi kenyataan umum bahwa pendidikan jasmani sebagai satu kenyataan umum bahwa pendidikan jasmani sebagai satu substansi pendidikan mempunyai peran yang berarti mengembangkan kualitas manusia Indonesia.

 

                   Sebagaimana diterapkan dalam Undang-Undang RI. Nomor II Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa tujuan pendidikan termasuk pendidikan jasmani di Indonesia adalah pengembangan manusia Indonesia seutuhnya ialah manusia yang beriman dan  bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

 

                   Apabila Anda bertanya kepada guru Penjas tentang apa tujuan yang hendak dicapai? Jawabannya mungkin bervariasi. Secara ideal, jawaban tersebut terjabar seperti butir-butir berikut:

                   1)      Perkembangan Pribadi

a)             Pertumbuhan fisik optimal

b)            Sehat fisik, mental, sosial, dan spiritual

c)            Kesegaran jasmani optimal

d)            Cerdas

e)            Kreatif dan inovatif

f)             Terampil dalam gerak dan memecahkan masalah

g)            Jujur, disiplin, percaya diri, dan tanggung jawab

                   2)      Hubungan Antar Pribadi dan Lingkungan

a)             Hormat pada sesama

b)            Gotong royong

c)            Luwes (mudah menyesuaikan diri)

d)            Komunikatif dalam ide (konsep) dan pemikiran

e)            Etika (sopan santun)

f)             Menghargai kondisi lingkungan

g)            Melestarikan lingkungan yang sehat dan harmonis

                   3)      Ketahanan Nasional

                            Politik:

a)             Cinta tanah air

b)            Demokrasi Pancasila

c)            Loyal pada Pancasila dan UUD 1945

                Ekonomi:

                a)      Penguasaan informasi dan teknologi

                b)      Etos kerja

               Sosial Budaya:

                a)      Tertib hukum

                b)      Kesetiakawanan Sosial

                Budaya :

                a)      Menghargai karya orang lain

                b)      Berpikir kritis

                c)      Toleransi penerapan Iptek

                Hankam:

                a)      Kesiapan membela negara

                b)      Partisipasi dalam Hankamrata

 

 

         3.      Profil Kompetensi Guru Pendidikan Jasmani

                   Mengapa Anda ingin menjadi guru (termasuk guru Penjas)? Bagaimanakah penilaian  Anda terhadap profesi guru? Apakah Anda bangga menjadi guru mata pelajaran Penjas? Kompetensi apakah yang harus Anda dimiliki untuk mampu mengajar Penjas di sekolah dasar secara profesional? Pertanyaan-pertanyaan ini membantu Anda dalam rangka mengidentifikasi “pengetahuan” membantu Anda sendiri sehingga memudahkan Anda dalam menentukan filsafat pendidikan jasmani.

 

                   Seorang guru Penjas seharusnya memiliki kemampuan dasar umum yang mencakup: penguasaan dan pengorganisasi materi yang hendak diajarkan dan penguasaan metode penyampaian seta penilaiannya. Secara rinci karakteristik yang seharusnya dimiliki guru Penjas sebagai berikut:

1)           Memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi karakteristik anak tentang: a) pertumbuhan fisik, b) perkembangan mental, c) perkembangan sosial dan emosional sesuai dengan fase-fase pertumbuhan.

2)           Mampu membangkitkan dan memberi kesempatan pada anak untuk berkreatif dan aktif dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani, serta mampu menumbuhkembangkan potensi kemampuan dan keterampilan motorik anak.

3)           Mampu memberikan bimbingan dan pengembangan anak dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan jasmani.

4)           Mampu merencanakan, melaksanakan, mengendalikan dan menilai serta  mengoreksi dalam proses pembelajaran bidang studi pendidikan jasmani di sekolah dasar.

5)           Memiliki pemahaman dan penguasaan keterampilan gerak

6)           Memiliki kemampuan tentang unsur-unsur kondisi fisik

7)           Memiliki kemampuan untuk menciptakan, mengembangkan, dan memanfaatkan faktor-faktor lingkungan yang ada dalam upaya mencapai tujuan pendidikan jasmani.

8)           Memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi potensi peserta didik dalam dunia olahraga.

9)           Memiliki kemampuan untuk menyalurkan hobinya peserta didik dalam dunia olahraga.

10)       Memiliki kemampuan untuk menyalurkan hobinya dalam olahraga.

 


BAB II

GAMBARAN PELAKSANAAN PENDIDIKAN JASMANI

 

A.      Kondisi Saat Ini

         Salah satu masalah utama dalam pendidikan jasmani di Indonesia, hingga dewasa ini, ialah belum efektifnya pengajaran pendidikan jasmani di sekolah-sekolah. Kondisi kualitas pengajaran pendidikan jasmani yang memprihatinkan di sekolah dasar, sekolah lanjutan dan bahkan perguruan tinggi telah dikemukakan dan ditelaah dalam berbagai forum oleh beberapa pengamat pendidikan jasmani dan olahraga (Cholik Mutohir, 1990a: 1990b, 1993: Mujiharsono, 1993; Soediyarto, 1992, 1993). Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya ialah terbatasnya kemampuan  guru pendidikan jasmani dan terbatasnya sumber-sumber yang digunakan untuk mendukung proses pengajaran pendidikan jasmani (cf. Cholik Mutohir, 1990a; 1990b, 1993: Soediyarto, 1992, 1993).  

        

         Kualitas guru pendidikan jasmani yang ada pada sekolah dasar dan lanjutan pada umumnya kurang memadai. Mereka kurang mampu dalam melaksanakan profesinya secara kompeten. Mereka belum berhasil melaksanakan tanggung jawabnya untuk mendidik siswa secara sistematik melalui pendidikan jasmani. Tampak pendidikan jasmani belum berhasil mengembangkan kemampuan dan keterampilan anak secara menyeluruh baik fisik. Mental maupun intelektual (Kantor Menpora, 1983). Hal ini benar mengingat bahwa kebanyakan guru pendidikan jasmani di sekolah dasar adalah bukan guru khusus yang secara normal mempunyai kompetensi dan pengalaman yang terbatas dalam bidang pendidikan jasmani. Mereka kebanyakan adalah guru kelas yang harus mampu mengajar berbagai mata pelajaran yang salah satunya adalah pendidikan jasmani.

 

         Gaya mengajar yang dilakukan oleh guru dalam praktik pendidikan jasmani cenderung tradisional. Model metode-metode praktik dipusatkan pada guru (Teacher Centered) dimana para siswa melakukan latihan fisik berdasarkan perintah yang ditentukan oleh guru. Latihan-latihan tersebut hampir tidak pernah dilakukan oleh anak sesuai dengan inisiatif sendiri (Student Centered).

 

         Guru pendidikan jasmani tradisional cenderung menekankan pada penguasaan keterampilan cabang olahraga. Pendekatan yang dilakukan seperti halnya pendekatan pelatihan olahraga. Dalam pendekatan ini, guru menentukan tugas-tugas ajarnya kepada siswa melalui kegiatan fisik tak ubahnya seperti melatih suatu cabang olahraga. Kondisi seperti ini mengakibatkan tidak optimalnya fungsi pengajaran pendidikan jasmani sebagai medium pendidikan dalam rangka pengembangan pribadi anak seutuhnya.

                  

B.     Upaya peningkatan Mutu Pendidikan Jasmani

         Dalam beberapa tahun belakangan ini, berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan membuat kebijakan-kebijakan baru guna meningkatkan pelaksanaan pendidikan jasmani. Kurikulum baru (1994) yang mencakup pendidikan jasmani bagi sekolah dasar dan menengah telah dibuat dan diputuskan. Demikian pula kurikulum baru bagi program Diploma II, dimana guru-guru sekolah dasar yang didalamnya terdapat mata kuliah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan telah dipersiapkan sebagai penyempurnaan kurikulum lama. Upaya pembaharuan kurikulum tersebut, seharusnya diikuti dengan upaya peningkatan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar sesuai dengan tuntutan kurikulum dan pengadaan fasilitas pendukungnya.

 

         Sayang, hingga dewasa ini usaha-usaha yang dilakukan guru pendidikan jasmani dan menyediakan fasilitas yang mendukung program-program pendidikan jasmani belum dilakukan secara optimum. Apabila kondisi seperti ini terjadi terus, maka dapat diperkirakan bahwa inovasi-inovasi kurikulum yang dilakukan tidak dapat direalisasikan dengan efektif. Kurikulum sebagai salah satu komponen pendidikan tidak akan berarti, makalah para guru atau dosen yang melaksanakan kurikulum dalam kondisi yang kurang menguntungkan, baik dalam kemampuan mengajar maupun fasilitas yang mendukungnya. Mereka akhirnya melaksanakan tugas mengajar pendidikan jasmani cenderung secara rutin dan tradisional. Akibatnya, sering berbagai upaya inovasi yang telah dilancarkan, mengalami berbagai upaya inovasi yang telah dilancarkan, mengalami berbagai kendala dan hambatan. Untuk itu, jika implementasi kurikulum pendidikan jasmani harus bisa dicapai dan berhasil, maka harus ada keinginan yang besar untuk meningkatkan kemampuan guru dan menambah fasilitas yang sesuai.

 

         Keefektifan pelaksanaan pengajaran pendidikan jasmani di sekolah pada beberapa tahun terakhir telah menjadi isu nasional yang menarik. Isu tersebut sering dibicarakan secara serius dalam forum diskusi atau seminar tingkat nasional oleh berbagai kalangan termasuk para pakar dan praktisi pendidikan jasmani. Berbagai saran dan rekomendasi sering diajukan dalam upaya meningkatkan pelaksanaan pendidikan jasmani di sekolah-sekolah termasuk perbaikan kurikulum, peningkatan kemampuan guru, penyediaan lapangan dan fasilitasnya.

 

         Sesungguhnya upaya untuk meningkatkan mutu pelaksanaan pendidikan jasmani telah mendapat perhatian sebagaimana tertuang dalam amanat GBHN 1983 sebagai berikut:

 

                   Pendidikan jasmani dan olahraga perlu ditingkatkan dan di masyarakat sebagai cara pembinaan kesehatan jasmani dan rohani bagi setiap anggota masyarakat. Selanjutnya perlu ditingkatkan kemampuan prasarana dan sarana pendidikan jasmani dan olahraga, termasuk pendidik, pelatih dan penggeraknya, dan digalakkan gerakan untuk memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat (Sumber, Yayasan Pelita, 1983:104).

 

         Pada tahun 1983 itu juga Presiden Suharto mengamanatkan agar pendidikan jasmani di sekolah mulai Taman Kanak-Kanak sampai dengan Perguruan Tinggi perlu lebih digiatkan dan dikembangkan.

 

         Kebijaksanaan telah jelas dan arah pengembangan pendidikan jasmani sesungguhnya telah jelas. Kini yang menjadi permasalahan pokok adalah seberapa jauh tingkat keberhasilan strategi dan pelaksanaan pembangunan pendidikan jasmani dan olahraga di masyarakat khususnya dalam pendidikan jasmani di setiap tingkat sekolah. Pertanyaan lebih lanjut, hal-hal apakah yang perlu diperhatikan untuk mendukung terciptanya pengajaran pendidikan jasmani yang efektif?

 

         Pengajaran pendidikan jasmani yang efektif dalam kenyataan lebih dari sekedar mengembangkan keterampilan olahraga. Pengajaran tersebut pada hakikatnya merupakan proses sistematis yang diarahkan pada pengembangan  pribadi anak seutuhnya.

 

         Sejarah pendidikan jasmani dan olahraga di Indonesia menunjukkan, bahwa aspek politik dari olahraga pada umumnya masih dominan. Bahkan dewasa ini, prestasi olahraga tetap dipandang sebagai “alat” untuk menunjukkan dan sekaligus mengingat  martabat bangsa, terutama di forum internasional. Akibatnya, perhatian yang begitu besar terhadap pencapaian prestasi masuk ke dalam kurikulum pendidikan jasmani. Isi kurikulum pendidikan jasmani misalnya, meskipun ada pilihan, mengarah ke penguasaan cabang olahraga.

 

         Meskipun kurikulum tersebut dirancang dengan memperhatikan faktor sosio-anthropologis, sosio kultural  dan geografis, tetapi pengaruh dari kelompok-kelompok peminat dan pemerhati, terutama dari kalangan politisi tak dapat dihindarkan. Hal ini tercermin, misalnya dalam “gerakan 4-5” yakni 4-5 cabang olahraga (atletik, senam, pencaksilat, dan permainan) yang dipromosikan di bawah payung pembinaan olahraga usia dini.

 

         Berkenaan hal di atas, tampaknya telah terjadi miskonsepsi pembinaan olahraga usia dini di Indonesia. Miskonsepsi itu bukan saja berkaitan dengan tujuan tetapi juga pelaksanaannya. Pembinaan olahraga usia dini dipahami sebagai fase pembinaan untuk mengenal dan menguasai suatu cabang olahraga dengan penekanan pada penguasaan keterampilan khusus, sebagai spesialisasi dalam rangka pencapaian prestasi.

 

         Sebagai akibat terlalu mendewakan prestasi, pembinaan olah raga di kalangan anak usia muda disalah gunakan, dan bahkan dalam praktiknya sering bertentangan dengan norma-norma pendidikan. Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan wajar, sering memperoleh perlakuan diluar batas kemampuannya. Sering anak dipaksa harus berlatih dengan beban yang berlebihan. Sering anak dipaksa harus berlatih dengan beban yang berlebihan. Kasus penggunaan obat terlarang pada anak usia dini dan pencurian umur dalam arena kejuaraan kelompok umur dalam arena kejuaraan kelompok umur merupakan pengalaman yang negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak.

 

         Idealnya, sesuai dengan pandangan hidup (filsafat) dan konsep pendidikan jasmani yang kita anut, pembinaan olahraga usia dini itu diarahkan pada pengenalan dan penguasaan keterampilan dasar suatu cabang olahraga yang dilengkapi dengan pengembangan keterampilan serta kemampuan fisik yang bersifat umum. Sementara itu, dalam konteks pendidikan jasmani, seperti pada kelas-kelas awal, penekanannya pada pengembangan keterampilan gerak secara menyeluruh.

                                    

 

 


BAB III

MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI

 

A.      Karakteristik Proses Belajar Mengajar (PBM) yang Efektif

         Pengajaran khususnya dalam pendidikan jasmani dapat dipandang sebagai seni dan ilmu (art and science). Sebagai seni, pengajaran hendaknya dipandang sebagai proses yang menuntut intuisi, kreativitas, improviasi, dan ekspresi dari guru. Ini berarti guru memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan dan tindakan proses pembelajaran selama dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan pandangan hidup dan etika yang berlaku. Jadi guru tidak harus selalu terpaku dan terikat formula ilmu mengajar.

 

         Pengajaran dapat disebut sebagai ilmu apabila memenuhi karakteristik sebagai berikut:

         1.      Memiliki daya ramal dan kontrol terhadap pencapaian prestasi belajar siswa (Gage, 1978 di Brucher, 1983).

         2.      Dapat dievaluasi secara sistematik dan dapat dipecah menjadi rangkaian kegiatan yang dapat dikuasai (Siedentop, 1976).

         3.      Mengandung pemahaman tentang tingkah laku manusia, pengubahan tingkah laku, rancangan pembelajaran, penyampaian dan manajemen (Siedentop, 1976).

         4.      Berkaitan erat dengan prinsip belajar seperti kesiapan, motivasi, latihan, umpan balik, dan kemajuan seta urutan (Siedentop, 1976).

         5.      Dimungkinkannya untuk mengkaji pengajaran dari sudut keilmuan (Siedentop, 1976).

        

         Menurut pendapat Siedentop (di Bucher, 1988:550) pengajaran dapat dan harus dapat dipelajari dari sisi teori ilmiah untuk mengembangkan teori pengajaran. Walaupun proses untuk membentuk teori pengajaran pendidikan jasmani merupakan perjalanan yang panjang, namun upaya untuk memahami tentang proses pengajaran merupakan arah yang harus dituju, selama “body of knowledge” tentang pengajaran belum mapan, atau selama pengajaran cenderung merupakan seni, maka perilaku guru dalam pengajaran akan menjadi tetap menarik untuk dikaji oleh pengamat tingkah laku setiap saat.

 

         Tujuan utama pengajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar adalah memantau peserta didik agar meningkatkan keterampilan gerak mereka, disamping agar mereka merasa senang dan mau berpartisipasi dalam berbagai aktivitas. Diharapkan apabila mereka memiliki pondasi pengembangan keterampilan gerak, pemahaman kognitif, dan sikap yang positif terhadap aktivitas jasmani kelak akan menjadi manusia dewasa yang sehat dan segar  jasmani dan rohani serta kepribadian yang mantap.

 

         Hingga dewasa ini salah satu masalah yang dihadapi dengan pelaksanaan pendidikan jasmani adalah langkahnya sarana dan sarana penunjang dan bervariasinya kondisi pendidikan jasmani di sekolah.

 

         Bagaimana seorang guru (kelas) dapat mengajarkan pendidikan jasmani dengan sukses dalam situasi keterbatasan dan perbedaan kondisi tersebut di atas? Model pengajaran yang tradisional yang sangat bergantung dari tersedianya sarana dan prasarana serta bersifat linier dalam arti tidak leluasa untuk menyesuaikan dengan kondisi setempat saat itu karena tertumpu pada satu acuan pendekatan mentradisi. Pengajaran reflektif mencakup pengertian guru yang sukses atau efektif dalam arti tercapainya kepuasan profesional. Pendekatan pengajaran refleksi  menekankan pada kreatifitas penumbuhan kondisi pembelajaran yang kondusif melalui penerapan berbagai keterampilan pengajaran yang disesuaikan dengan situasi (lingkungan) tertentu. Pengertian pengajaran reflektif tidak menunjuk salah satu metodologi atau model pengajaran tertentu, namun ia menunjuk pada berbagai keterampilan mengajar yang diadaptasikan secara tepat oleh guru dalam proses belajar mengajar. Guru yang reflektif selalu melakukan penilaian terhadap lingkungan sekitar dalam upaya mengidentifikasi dan memanfaatkan berbagai unsur-unsur secara optimum, guru tersebut memanfaatkan berbagai unsur tersebut secara optimum, guru tersebut kemudian membuat rencana proses pengajarannya. Pengajaran reflektif ini berbeda dengan pengajaran tradisional atau pengajaran “invariant” yang diberi ciri dengan penggunaan satu metode dalam berbagai situasi pengajaran. Kategori model yang dikemukakan oleh Mosston (1966), sebagai contoh, dapat diterapkan selama model kategori itu sesuai dengan tuntutan kegiatan-kegiatan dan kebutuhan situasional saat itu.      

 

         Perbandingan pengajaran reflektif dengan pengajaran tradisional (invariant) dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1

Karakteristik Guru Efektif  dan Guru Tradisional

Variabel

Guru Efektif

Guru Tradisional

Perencanaan

Sesuai  rencana pelajaran pada kelas dan anak yang berbeda.

Gunakan rencana pelajaran yang sama.

Kemajuan

Didasarkan pada kondisi faktor: (1) irama dan tingkat perkembangan, (2) kebutuhan keterampilan, (3) perhatian dalam topik atau aktivitas.

Didasarkan pada faktor seperti: (1) Unit kegiatan 6 minggu, (2) jumlah materi yang telah dicakup dalam satu semester/tahun, (3) rumus yang ditetapkan sebelumnya.  

Kurikulum

Rancang setiap kelas yang unik setelah diadakan penilaian awal dari kemampuan dan kebutuhan.

Gunakan kurikulum yang telah ditetapkan tanpa faktor seperti kemampuan anak, pengaruh masyarakat atau minat anak.

Peralatan & fasilitas

Modifikasi kegiatan dan pelajaran sesuai peralatan dan fasilitas yang ada di lingkungan.

Mengajar sesuai  dengan  peralatan dan fasilitas yang tersedia.

Disiplin

Berupaya memahami masalah dan mencari penyebab dan pemecahannya, memodifikasi prosedur pengajarannya.

Mengasumsi anak bersikap tidak pada tempatnya dan berupaya mengatasi tingkah laku individu/kelas.

Evaluasi

Mengevaluasi anak secara teratur dan mengevaluasi keefektifan pengajarannya lewat anak didik dan teman sejawat.

Mengevaluasi secara sporadic biasanya berdasarkan pada kesukaan anak dan minat anak kebaikan perilaku anak didik.

 

         Selama dua dekade terakhir pengajaran pendidikan jasmani dengan pendekatan refleksi telah berhasil dilaksanakan di beberapa negara seperti Amerika dan Australia. Hasil riset tentang pengajaran menunjukkan bahwa ada tiga butir hal yang penting untuk diperhatikan agar pengajaran pendidikan jasmani efektif dalam arti bahwa anak didik akan memiliki keterampilan bergerak yang tinggi dengan sikap yang positif terhadap kegiatan fisik. Ketiga hal itu meliputi: (1) Anak didik memerlukan latihan praktek yang tepat dan memadai, (2) Latihan praktek tersebut harus memberikan peluang tingkat sukses (rate of success) yang tinggi, dan (3) Lingkungan perlu distrukturisasi sedemikian rupa sehingga menumbuhkan iklim belajar yang kondusif.

 

         Memperhatikan kelebihan pendekatan pengajaran reflektif dibandingkan dengan pengajaran tradisional di samping faktor kemungkinan keterlaksanaannya pendekatan pengajaran reflektif di Indonesia, walau masih diperlakukan suatu kajian-kajian empirik yang mendalam, diperkirakan pengajaran reflektif ini dapat digunakan sebagai alternatif utama bagi para guru pendidikan jasmani. Masalah yang dihadapi: Bagaimana merubah wawasan dan perilaku guru agar siap dan mampu melaksanakan pendekatan pengajaran reflektif pada pelajaran pendidikan jasmani di sekolah itu?

         Perubahan kurikulum khususnya kurikulum sekolah dasar pada hakikatnya menuntut perubahan wawasan dan perilaku gurunya agar kurikulum yang dirancang dan dikembangkan dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu sangat perlu direncanakan secara matang mengenai strategi implementasi dari  kurikulum tersebut. Penataran dan pelatihan guru, pengadaan fasilitas dan peralatan yang mendukung pelaksanaan kurikulum perlu direncanakan dan diadakan guna mendukung keberhasilan implementasi kurikulum. Seiring dengan perubahan kurikulum sekolah dasar tersebut, maka perubahan kurikulum PGSD program D-II yang sekarang diberlakukan masih banyak mengalami kekurangan. Upaya perbaikan dan pengembangan kurikulum PGSD D-II yang baru ini harus dilakukan dengan cermat dan memperhitungkan berbagai faktor termasuk faktor keterlaksanaannya. Pengalaman empirik selama ini menunjukkan bahwa dari seluruh isi kurikulum pendidikan jasmani yang tertulis itu hanya sebagian kecil saja yang dapat diimplementasikan karena berbagai kendala termasuk terbatasnya sarana dan prasarana pendukung dan keterbatasan wawasan dan kemampuan guru. Mengingat guru mempunyai peran yang penting dalam pengembangan dan pelaksanaan kurikulum, maka panduan untuk guru guna mendukung peran guru tersebut di lapangan maka  perlu diadakan. Demikian pula penataran dan pelatihan guru perlu terus diupayakan agar mereka menjadi guru yang profesional dan kreatif dalam arti memecahkan masalah dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di lingkungannya. Guru yang reflektif seperti itu sangat diperlukan guna mendukung keterlaksanaan kurikulum secara efektif seperti yang diharapkan.

 

B.     Model Pengajaran Pendidikan Jasmani

         Dari literatur diperoleh gambaran tentang model pengajaran pendidikan jasmani. Beberapa tahun terakhir ini dikembangkan berbagai model pengajaran pendidikan jasmani dan diterapkan dengan berhasil di lapangan. Beberapa model pengajaran tersebut dikemukakan oleh Siedentop, Mand, dan Taggart (1986) sebagai berikut:

1)            Pengajaran langsung/perintah (Direct instruction)

2)            Pengajaran tugas / pos (Task/station teaching)

3)            Pengajaran berpasangan kelompok (Reciprocal/group teaching)

4)            Pengajaran sistem kontrak (Personalyzed system of Instruction (PSI)/Mastery Teaching)

5)            Manajemen Kontingensi (Contingensi Management)

 

         Salah satu spectrum model pengajaran lain juga dikemukakan Mosston (1996). Model Mosston ini didasarkan atas asumsi bahwa keputusan terhadap proses dan produk pengajaran hendaknya bergeser dari pengajaran terpusat pada guru ke terpusat pada anak, dari siswa terikat menjadi siswa bebas (aktif). Mosston mengklasifikasi model pengajaran berdasarkan hasil analisa siapa yang membuat keputusan. Klasifikasi model pengajaran tersebut adalah sebagai berikut.

 

C.     Spektrum Gaya Belajar Mengajar

         Pembahasan mengenai struktur belajar berkaitan dengan bagaimana orang itu belajar. Struktur belajar meliputi matriks kontrak psikologis dan fisiologis yang memberikan penjelasan tentang belajar tentang struktur pelajaran atau pokok bahasan menggambarkan dan menyajikan suatu upaya untuk menghubungkan komponen-komponen  pengetahuan dengan cara-cara logis dan berarti.

        

         Bagaimana seharusnya guru berperilaku? Bagaimana seharusnya guru mengajar? Agar hal ini secara rinci berkaitan  dan menyatu dengan pokok bahasan yang akan dipelajari, dipahami dan didalami oleh siswa.           Haruskah kita meninggalkan problem pada dugaan seseorang? Haruskah kita meninggalkan problem kehendak guru secara individu atau pendapat pribadi? Apakah kurangnya konsep yang jelas tentang struktur mengajar, menimbulkan kesenjangan yang serius di antara struktur pokok bahasan dan struktur belajar? Apakah ini cukup untuk menjelaskan secara rinci dan secara filosofis pada fungsi belajar individu yakni untuk membenarkan atau memperkuat kemungkinan-kemungkinan dengan penelitian di dalam interaksi kognitif, di dalam memperkuat image diri (self image) dan di dalam hubungan sosial? Haruskah kita menyarankan cara-cara operasional untuk mempertemukan atau menjembatani kesenjangan di antara siswa, dan pokok bahasan kita menyusun hubungan yang baru dan bermanfaat yang didasarkan pada keterlibatan dan interaksi dari tiga unsur utama yaitu, guru, siswa dan pokok bahasan (pelajaran)?

 

         Mosston mengemukakan spectrum gaya mengajar sebagai upaya menjembatani di antara pokok bahasan dan belajar.         Spektrum ini merupakan suatu konsepsi teoritis dan suatu desain atau rancangan operasional mengenai alternatif atau kemungkinan gaya mengajar. Setiap gaya mengajar memiliki struktur tertentu yang menggambarkan peran guru, siswa dan mengidentifikasi tujuan-tujuan yang dapat dicapai jika gaya mengajar ini dilakukan.

 

         Gaya mengajar didefinisikan dengan keputusan-keputusan yang dibuat oleh guru dan dibuat oleh siswa di dalam episode atau peristiwa belajar yang diberikan. Jenis-jenis keputusan dibuat oleh guru dan siswa yang menentukan proses dan hasil dari episode itu. Oleh karena itu, spectrum gaya mengajar ini memberikan kepada guru suatu susunan atau aturan tentang alternatif di dalam perilaku mengajar, yang memungkinkan guru mencapai lebih banyak siswa dan memenuhi banyak tujuan.

 

         Penemuan dan rancangan spectrum gaya mengajar, yaitu:

         1.      Masalah yang bertentangan

                   Kebanyakan guru telah dibanjiri dengan banyak ide, program, penemuan-penemuan penelitian, dan bahan-bahan paket. Beberapa di antaranya ada yang berguna, sedangkan yang lain ada yang tidak bermanfaat, tetapi kebanyakan menimbulkan kontradiksi atau pertentangan. Setiap ide telah  menyajikan cara pemecahan tunggal (singular) terhadap program pendidikan jasmani. Seperti, individualisasi dengan pengajaran kelompok, pemecahan masalah (problem solving) dengan belajar yang bersifat menghafal (tanpa berpikir), permainan bola dengan aktivitas perkembangan, yang beberapa ide tersebut menggambarkan permasalahan yang bertentangan. Polaritas atau sifat berlawanan ini telah menimbulkan kebingungan dan ketidakseimbangan di dalam desain program dan di dalam mengajar pendidikan jasmani. Padahal siswa perlu berpengalaman dan mengembangkan pada semua dimensi. Masalahnya adalah “bagaimana guru mengetahui, bagaimana menyatakan ide-ide tersebut di atas ke dalam perilaku mengajarnya”?

 

          Pengamatan ini yang mendorong penemuan dan membuat desain spectrum gaya mengajar ini. Spektrum ini didasarkan pada suatu ide yang tidak saling bertentangan. Hal-hal pokok ini saling berhubungan di antara gaya-gaya mengajar daripada perbedaannya.

 

         2.      Belajar dan Mengajar

                   Pengaman kedua dialamatkan pada ketidaksesuaian yang ada di antara belajar dan mengajar. Jiwa siswa di dalam cara yang berbeda atau memperlihatkan perilaku belajar yang berbeda, maka yang sangat penting untuk mengidentifikasi gaya mengajar yang akan dilakukan, dengan cara yang teliti, yang mendatangkan perilaku belajar tertentu, khususnya jika setiap perilaku belajar dan dapat mencapai seperangkat tujuan tertentu.

 

                   Spektrum gaya mengajar ini merupakan struktur mengajar yang mengidentifikasi gaya-gaya tertentu. Spektrum mengidentifikasi struktur setiap gaya dan hubungannya dengan gaya mengajar yang lain. Spektrum ini mengidentifikasi prosedur penerapan pada berbagai kegiatan dan pelaksanaan dan setiap gaya pada pertumbuhan dan perkembangan siswa di dalam domain fisik, emosi, sosial, dan domain kognitif.

                   Masalah utamanya adalah bahwa apakah guru memiliki hubungan intrinsik dan hubungan langsung dengan perilaku belajar. Spektrum gaya mengajar ini memberikan kepada guru kemampuan untuk memilih gaya mengajar tertentu yang akan  meminta kesesuaian dengan gaya mengajar. Hal ini memberikan kepada guru pengetahuan tentang bagaimana melakukannya dengan berhati-hati dan teliti. Suatu pengajaran yang bersifat umum, sewenang-wenang (sekehendak guru) dan yang bersifat kebutuhan tidak dapat dilakukan dengan gaya mengajar Mosston ini.

         3.      Perilaku yang unik dan universal

                   Pendekatan mengajar selalu memiliki keunikan yang bersandar pada ide bahwa mengajar adalah bersifat intuitif, spontan, dan kadang-kadang bersifat mistik, ini sebenarnya dikaitkan karena pemberian kebebasan kepada para guru untuk melakukan sesuatu.

                   Ide ini didorong oleh ungkapkan seperti: “Kebebasan individu”, “Cara saya”, “Kerja saya”, “Mengajar kreatif”, “mengajar adalah suatu seni” dan sebagainya. Tidak ada upaya untuk menyangkal keberadaan daya keunikan itu, serangkaian keunikan, tidak menyajikan teori mengajar pada profesi yang dapat dibuat pegangan profesi yang dapat dibuat pegangan.

 

                   Keunikan seseorang tidak memberikan dasar-dasar pemahaman perwujudan mengajar dan pengaruhnya pada perilaku belajar. Sebenarnya di dalam mengajar bahwa suatu teori yang universal pada struktur mengajar sangat diperlukan. Hal ini akan mendasari guru lebih memungkinkan untuk mengajar, menganalisis mengajarnya di dalam cara yang rasional, dan untuk menaksir dan menilai kompetisi guru.

 

                   Suatu teori yang universal akan memberikan cara untuk mengidentifikasi berbagai dugaan peranan baik guru maupun siswa serta cara untuk mengidentifikasi apakah tindakan guru sesuai dengan maksud atau tujuan guru. Ketiga pengamatan ini telah mendorong penemuan dan mendesain atau merancang spectrum gaya mengajar.

 

                   Berdasarkan gambaran singkat itu, mengakibatkan adanya perkembangan spectrum gaya mengajar adalah:

                   Tahap pertama, kita menentukan aksioma tentang aktivitas mengajar adalah bahwa “perilaku mengajar adalah suatu rangkaian pembuatan keputusan”. Pernyataan ini memberikan konsep universal, karena semua guru di dalam bidang studi atau pokok bahasan sepanjang waktu itu digunakan di dalam pembuatan keputusan.

 

                   Tahap kedua, adalah untuk mengidentifikasi kategori-kategori keputusan yang harus selalu dibuat di dalam berbagai aktivitas belajar mengajar. Ini merupakan keputusan tentang tujuan-tujuan, pokok bahasa, aktivitas tertentu, pengorganisasian materi, bentuk-bentuk feddback (umpan balik) kepada siswa dan sebagainya.

 

                   Kategori-kategori keputusan itu diorganisasikan atau disusun di dalam tiga perangkat yang memberikan rangkaian keputusan-keputusan dalam berbagai transaksi belajar mengajar.   Perangkap pertama adalah pra-pertemuan (pre-impact), meliputi keputusan-keputusan yang harus dibuat sebelum berhadapan di antara guru dan siswa. Perangkat kedua adalah selama pertemuan (impact), meliputi keputusan-keputusan yang harus dibuat selama penampilan atau pelaksanaan tugas.          Perangkat ketiga adalah pasca pertemuan (post-impact), meliputi keputusan-keputusan yang harus dibuat yang berkaitan dengan evaluasi pelaksanaan dan feedback kepada siswa.

 

                   Dengan kata lain, ketiga perangkat tersebut dapat dikatakan sebagai: a. tahap perencanaan; b. tahap pelaksanaan; dan c. tahap evaluasi. Ketiga perangkat ini membentuk suatu anatomi berbagai gaya mengajar.

 

D.     Anatomi Gaya Mengajar

         Anatomi gaya mengajar menyajikan konsep universal, karena keputusan-keputusan dalam tiga perangkat ini biasanya dibuat di dalam berbagai kegiatan mengajar. Struktur gaya mengajar individual dan kedudukan spectrum ini ditentukan dengan mengidentifikasi yang membuat keputusan tertentu di dalam tiap perangkat. Dengan demikian, setiap gaya diidentifikasi dengan pembagian keputusan-keputusan tertentu yang dibuat guru dan siswa di dalam episode yang diberikan. Susunan gaya-gaya mengajar itu mulai dari gaya komando, yang menggambarkan spectrum gaya-gaya mengajar.

Perangkat

Keputusan

Keputusan-keputusan yang harus dibuat

Tentang:

Pra-Pertemuan            1.      Tujuan / sasaran pelajaran (pokok bahasan)

(berisi:  persiapan)               2.      Pemilihan gaya mengajar

         3.      Gaya belajar yang diharapkan

         4.      Siapa yang akan diajar

         5.      Pokok bahasan

         6.      Di mana mengajar (lokasi)

         7.      Kapan mengajar:

                   a.       Waktu mulai

                   b.      Kecepatan dan irama pelajaran

                   c.      Lama pelajaran

                   d.      Waktu berhenti

                   e.      Interval

             f. Waktu pengakhiran

         8.      Sikap tubuh

         9.      Pakaian dan penampilan

         10.    Komunikasi

         11.    Cara menjawab pertanyaan

         12.    Rencana organisasi

         13.    Parameter

         14.    Suasana kelas / pelajaran

         15.    Materi dan prosedur evaluasi

         16.    Lain-lain 

     

Selama pertemuan      

1.      Pelaksanaan dan mengikuti pada keputusan-keputusan (berisi pelaksanaan pra-pertemuan dan penampilan)                                                 

2.      Menyelesaikan keputusan-keputusan

3.      Lain-lain   

Pasca pertemuan        

1.      Pengumpulan informasi tentang pelaksanaan dalam  (berisi Evaluasi perangkat, selama pertemuan (dengan mengamati mendengarkan Sentuhan dan sebagainya)   

2.      Menilai informasi dengan kriteria (peralatan, prosedur, materi, norma, nilai dan sebagainya).

3.      Feedback (umpan balik).                                                                       

 

 

         Anatomi gaya mengajar ini mengidentifikasi rangkaian atau urutan perangkat keputusan-keputusan yang harus dibuat berbagai belajar-mengajar.

        

         Perangkat keputusan-keputusan pra-pertemuan selalu mendahului berbagai transaksi di antara guru dan siswa. Keputusan-keputusan pelaksanaan yakni selama pertemuan selalu mengikuti keputusan-keputusan yang ditentukan di dalam pra-pertemuan. Penampilan atau pelaksanaan yang telah dilakukan kemudian dievaluasi dan keputusan-keputusan feedback yakni pada pasca pertemuan.

 

         Rangkaian keputusan ini selalu berlangsung tanpa mengabaikan lamanya episode atau pelaksanaan pelajaran. Rangkaian ini terjadi jika satu latihan dilakukan, jika satu seri latihan terdiri dari episode, jika suatu keterampilan tertentu dilakukan di dalam permainan bola, atau jika seluruh permainan bola dilakukan.

         1.      Perangkat Pra Pertemuan

                   Sebelum berbagai penampilan atau pelaksanaan suatu keputusan aktivitas pelajaran harus dibuat, maka pada perangkat pra-pertemuan dibuat keputusan yang berkaitan.

                   a.       Tujuan / sasaran pelajaran; yaitu keputusan harus dibuat untuk tujuan kegiatan tertentu. Keputusan ini mengidentifikasi hasil yang dicapai pada akhir pelajaran.

                   b.      Penentuan (pemilihan gaya mengajar); yakni guru benar-benar mengetahui kegiatan tertentu. Keputusan ini mengidentifikasi hasil yang dicapai pada akhir pelajaran.

                   c.      Gaya belajar yang diharapkan; yakni dua keputusan pertama mengarah pada realisasi gaya belajar di dalam episode yang diberikan yang akan mengungkapkan gaya mengajar itu. Keputusan tentang gaya belajar ditemukan untuk mempertinggi keputusan di dalam dua kategori sebelumnya.

                   d.      Siapa yang akan diajar; di dalam situasi kelas pelajaran, keputusan harus dibuat kepada siapa dialamatkan pada saat porsi pelajaran yang berbeda; apakah seluruh kelas? Satu kelompok? Atau untuk individu?

                   e.      Pokok bahasan/pelajaran; keputusan harus dibuat apakah pokok bahasan akan diajar oleh guru sendiri, atau apakah tugas akan diberikan kepada siswa. Kategori ini meliputi empat keputusan tambahan yaitu:

                            1)      Mengapa pokok bahasan ini disampaikan

                                      Ini meliputi dasar pemikiran atau alasan pemilihan tugas ini. Apakah tugas ini menyelesaikan atau mencapai tujuan?

                            2)      Kuantitas; setiap tugas didalam pendidikan jasmani memiliki kuantitas, misalnya, 10 kali menembak; 20 kali push-up; lari 1 km, dan sebagainya. Oleh karena itu, keputusan kuantitas ini harus dibuat.

                            3)      Kualitas; setiap tugas yang dilakukan menyajikan tingkat kualitas yakni bagaimana tugas itu dilakukan?

                            4)      Urutan; setiap tugas di dalam pendidikan jasmani memiliki urutan tertentu, yang menunjukkan urutan atau rangkaian gerakan.

                   f.       Di mana mengajar (lokasi); setiap aktivitas berlangsung pada beberapa tempat, maka keputusan lokasi harus dibuat.

                   g.      Kapan mengajar; kategori ini meliputi keputusan-keputusan yang berkaitan dengan beberapa aspek waktu, yaitu:

                            (1)    Waktu mulai; setiap tugas (misalnya; lari, loncat/lompat, lempar dan sebagainya) memiliki waktu mulai.

                            (2)    Kecepatan dan irama pelajaran, tidak ada gerakan tanpa kecepatan dan irama pelajaran dalam pendidikan jasmani.

                            (3)    Lama pelajaran; semua aktivitas termasuk pembagian waktu.

                            (4)    Waktu berhenti; setiap tugas berakhir pada waktu yang ditentukan.

                            (5)    Interval (selang waktu antara tugas-tugas); yakni menunjukkan pada waktu yang diperlukan diantara dan tugas.

                            (6)    Waktu pengakhiran (terminasi).

                   h.      Sikap tubuh (postur); semua tugas did alam pendidikan jasmani meliputi berbagai sikap tubuh untuk membantu atau menyelesaikan tujuan dari setiap tugas.

                   i.       Pakaian dan penampilan; keputusan ini menunjukkan pada pakaian dan penampilan dari siswa did alam gedung olahraga, lapangan permainan dan sebagainya.

                   j.       Komunikasi; suatu keputusan harus dibuat tentang komunikasi yang digunakan selama episode,  misalnya berbicara demonstrasi fisik dan sebagainya.

                   k.      Cara menjawab pertanyaan di dalam berbagai peristiwa belajar-mengajar, berbagai pertanyaan mungkin muncul di antara siswa.

                   l.       Rencana/susunan organisasi; kategori ini meliputi semua persiapan logistik yang perlu untuk menyelesaikan atau mencapai tujuan dari episode.

                   m.     Parameter; suatu keputusan harus mengenai batas-batas yang mungkin perlu di dalam kategori tersebut di atas, keputusan parameter tentang tempat, waktu dan sebagainya.

                   n.      Suasana kelas/pelajaran; kategori ini menunjukkan pada suasana sosial dan sikap di dalam kelas/pelajaran selama episode. Suasana ini ditentukan oleh jumlah total dari keputusan yang dibuat di dalam kategori sebelumnya.

                   o.      Materi dan prosedur evaluasi; suatu keputusan harus dibuat tentang jenis evaluasi yang akan dilakukan setelah penampilan/pelaksanaan tugas.

                   p.      Lain-lain; seperangkat keputusan pra-pertemuan ini merupakan suatu struktur tambahan. Jika ingin mengidentifikasi kategori tambahan, maka dapat ditambahkan. 

 


         2.      Perangkat Selama Pertemuan

                   Perangkat selama pertemuan meliputi keputusan-keputusan yang berkaitan dengan penghantaran atau pengalihan dan penampilan tugas-tugas. Keputusan-keputusan yang diambil selama pelajaran berlangsung adalah:

                   a.       Melaksanakan dan mengikuti keputusan-keputusan pra-pertemuan.

                   b.      Menyesuaikan keputusan-keputusan. Ada beberapa keputusan yang dibuat di dalam kegiatan yang tidak sesuai atau ketidakserasian di dalam berbagai kategori ini. Kadang-kadang hal-hal yang tidak berjalan seperti yang diharapkan di dalam kategori keputusan yang dibuat. Jika hal ini terjadi, maka penyesuaian keputusan dibuat dan episode berjalan terus. Penyesuaian itu tetap pada gerak guru ataupun siswa.

                   c.      Lain-lain jika berbagai keputusan lain, sebelumnya tidak diidentifikasi, maka dapat disisipkan atau dimasukkannya.

 

         3.      Perangkat Pasca Pertemuan

                   Serangkaian keputusan yang berkaitan dengan evaluasi dengan evaluasi pelaksanaan dan feedback yang diberikan kepada siswa. Keputusan-keputusan ini dibuat selama atau sesudah pelaksanaan tugas. Kategori-kategori ini pada hakikatnya merupakan suatu rangkaian.

                   a.       Pengumpulan informasi tentang pelaksanaan; pertama guru harus melihat pada pelaksanaan dan mengumpulkan informasi mengenai penampilan atau pelaksanaan itu. Hal ini sebagai dasar membuat keputusan untuk langkah selanjutnya.

                   b.      Menilai informasi dengan kriteria

                            Hanya setelah guru mengamati pelaksanaan tugas siswa, guru dapat membuat keputusan tentang apakah memenuhi kriteria yang ditentukan standar dan tujuan yang ditetapkan.

                   c.      Feedback, Informasi tentang pelaksanaan telah dikumpulkan, kualitas pelaksanaan telah dinilai dengan kriteria yang ada, maka feedback kepada siswa dapat diberikan. Feedback dapat diberikan dengan berbagai cara, misalnya dengan sikap atau Sentuhan. Ini sebenarnya merupakan cara komunikasi atau interaksi di antara guru dengan siswa. Kebanyakan komunikasi atau interaksi di antara guru dengan perhatian. Perkataan atau perilaku verbal.

 

 

E.      Pelaksanaan dan Penerapan Spektrum Gaya Mengajar

         Pelaksanaan dan penerapan gaya-gaya mengajar dalam pendidikan jasmani perlu disesuaikan dengan kondisi dan situasi belajar-mengajarnya. Dougherly dan Bonanno mengemukakan padangannya terhadap gaya-gaya mengajar dikemukakan oleh Mosston tentang karakteristik, pertimbangan-pertimbangan mengajar tertentu, dan kelebihan dan kekurangannya. Selanjutnya ia mengemukakan pendapatnya dalam melaksanakan dan menerapkan gaya mengajar tersebut, adalah:

         1.      Tidak ada gaya mengajar yang paling baik untuk selamanya. Setiap gaya mengajar memiliki kelebihan dan kekurangan tertentu pada gaya itu sendiri. Faktor-faktor ini harus ditekankan yang berkaitan dengan tujuan-tujuan tertentu dari pelajaran, kesiapan siswa untuk mengambil keputusan faktor lain.

         2.      Ada periode yang membuat atau  menyebabkan berhenti yang harus diamati, jika gaya mengajar beralih ke arah yang lebih menekan kepada siswa pada akhir dari rangkaian kesatuan gaya mengajar. Orang (siswa) yang tidak pernah memiliki kesempatan untuk membuat keputusan di dalam kelas/pelajaran tidak dapat mengemukakan dasar pemikiran yang bersifat emosional dan intelektual, diharapkan melakukan atau membuat lebih banyak keputusan melakukan atau membuat lebih banyak keputusan tanpa periode latihan dan pengembangan secara bertahap. Sebaliknya, guru yang membiasakan mendominasi membuat keputusan seharusnya berusaha mengekang perilaku ini dan memberikan lebih banyak kesempatan (Keleluasaan) pada siswa untuk membuat dari gaya mengajar komando. Transisi atau peralihan ini sangat efektif dilakukan secara perlahan dan cermat. Ini jauh lebih meningkatkan dalam membuat  keputusan-keputusan kecil atau sederhana daripada diberikan terlalu banyak tetapi sulit dilakukan siswa.

         3.      Jika pelajaran ternyata tidak berhasil, maka dengan berhati-hati dalam menilai semua variabel atau faktor did alam situasi mengajar sebeluym menyalahkan gaya mengajar itu sendiri. Sebagaimana di dalam berbagai pengajaran yang lain, terdapat banyak kemungkinan kesulitan yang tidak tampak pada setiap gaya mengajar. Salah satu diantaranya adalah alternatif atau kemungkinan pada gaya mengajar itu. Jika pelajaran mengalami kegagalan, maka pertimbangan dan meninjau kembali semua variabel atau faktor sebelum menyalahkan kegagalan atau ketidaksesuaian pada gaya mengajar itu sendiri. Kita dapat meninjau kembali dan mempertanyakan seperti:

                   a.       Apakah siswa mempersiapkan untuk membuat jenis-jenis keputusan sesuai dengan yang diharapkan?

                   b.      Apakah guru menyampaikan informasi persiapan yang cukup kepada siswa?

                   c.      Apakah guru melakukan gaya mengajar dengan benar?

                   d.      Apakah guru memberikan feedback tidak hanya berkaitan dengan penampilan fisik, tetapi juga penyesuaian dengan gaya yang digunakan?

                   e.      Apakah gaya mengajar sesuai dengan pelajaran?

         4.      Jangan ragu atau takut untuk mengkombinasi gaya-gaya mengajar. Tidak ada yang begitu keramat atau agung tentang gaya mengajar tertentu yang tidak dapat dikombinasikan dan dimodifikasi yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan individu. Guru dan siswa sama-sama senang dan enak dengan seluruh rentang perilaku, tidaklah salah guru mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk gaya mengajar baru. Yang menjadi faktor penting adalah bahwa gaya mengajar baru itu harus secara sadar digunakan dan dikembangkan yang didasarkan pada pertimbangan dan penilaian yang matang.

         5.      Jangan terpaku atau terkunci pada gaya mengajar tertentu. Pengulangan gaya mengajar  yang terus menerus tanpa mengabaikan perubahan-perubahan pelajaran/pokok bahasan adalah sama-sama menjemukan  siswa maupun guru. Sedangkan sejumlah  pengamanan dan pengulangan tertentu adalah perlu. Terutama bagi anak-anak kecil, bahwa terlalu banyak (apa saja) adalah kurang baik. Guru yang baik adalah mereka yang tidak terelakkan dari hal-hal yang memiliki berbagai perilaku mengajar yang luas dan yang mengubah perilaku mereka berdasarkan situasi tertentu. Ini sebenarnya merupakan nilai utama dari spectrum gaya mengajar itu. Nilai ini memberikan cara yang tersusun dengan jelas tentang pemilihan dan pengembangan berbagai kemungkinan perilaku mengajar. Guru yang lebih banyak memiliki alternatif, akan lebih memudahkan dalam menyelesaikan persoalan, selain itu, guru yang baik dapat menyesuaikan perilaku mengajar yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan isi pelajaran, sehingga lebih besar kemungkinan berhasil.

         6.      Ingat bahwa gaya mengajar itu hanya baik jika pelakunya baik atau  dilakukan dengan baik. Tidak ada gaya mengajar yang dapat berhasil tanpa persiapan yang bijaksana dan perhatian yang teliti. Tidak ada gaya mengajar yang dapat mengganti atau mengimbangi kekurangan tentang keahlian atau kecakapan di dalam pelajaran selama mengajar atau karena kurangnya kesungguhan siswa. Guru seharusnya mau bekerja dengan sungguh-sungguh dan memperhatikan siswanya. Dalam mata rantai yang sangat berharga, namun demikian spectrum gaya mengajar ini memberikan bermacam-macam strategi mengajar yang menarik dan produktif yang dapat disesuaikan dan dimodifikasi yang sesuai dengan kebutuhan dari setiap situasi mengajar yang baru. 

 


 

F.      Gaya Komando

         1.      Anatomi Gaya Komando

                   a.       Dalam setiap anatomi gaya, Mosston meninjau dari tiga perangkat keputusan: pra-pertemuan, selama pertemuan berlangsung, dan pasca pertemuan. Keputusan yang dibuat guru dan yang akan diteruskan kepada siswa dinyatakan sebagai berikut:

                            G       =       Keputusan Guru

                            S       =       Keputusan Siswa

                   b.      Untuk gaya komando atau gaya perintah ini, semua keputusan diambil oleh guru. Jadi diagram tentang keputusan-keputusan untuk gaya komando ini adalah sebagai berikut:

                                                        –––––––––––––

                                                                  A

                                                        –––––––––––––

                            Pra-pertemuan             G

                            Dalam pertemuan        G

                            Pasca pertemuan         G

         2.      Sasaran Gaya Komando

                   a.       Bagian ini akan merinci peranan guru, peranan siswa dan hasil yang dicapai karena penggunaan gaya yang diuraikan.

                   b.      Dengan menggunakan gaya komando, maka sasaran yang dicapai akan melibatkan siswa yang akan mengikuti petunjuk-petunjuk guru, dengan sasaran-sasaran sebagai berikut:

(1)         Respons langsung terhadap petunjuk yang diberikan

(2)         Penampilan yang sama / seragam

(3)         Penampilan yang disinkronkan

(4)         Penyesuaian

(5)         Mengikuti model yang telah ditentukan

(6)         Mereproduksi model

(7)         Ketepatan dan kecermatan respons

(8)         Meneruskan kegiatan dan tradisi kultural

(9)         Mempertahankan tingkat estetika

(10)    Meningkatkan semangat kelompok

(11)    Penggunaan waktu secara efisien

(12)    Pengawasan keamanan

         3.      Menyusun Pelajaran Gaya Komando

                   a.       Semua keputusan pra-pertemuan dibuat oleh guru

(1)         Pokok bahasan

(2)         Tugas-tugas

(3)         Organisasi

(4)         Dan lain-lain

                   b.      Semua keputusan selama pertemuan berlangsung dibuat oleh guru:

(1)         Penjelasan peranan guru dan siswa

(2)         Penyampaian pokok bahasan

(3)         Penjelasan prosedur organisasi

          (a)     Regu, kelompok

          (b)    Penempatan dalam wilayah kegiatan

          (c)    Perintah yang harus diikuti

(4)         Urutan kegiatan

          (a)     Peragaan

          (b)    Penjelasan

          (c)    Pelaksanaan

          (d)    Penilaian

                   c.      Keputusan pas­ca-pertemuan

                            (1)    Umpan balik kepada siswa,

                            (2)    Sasarannya: harus memberi  banyak waktu untuk pelaksanaan tugas.


 

         4.      Implikasi Penggunaan Gaya Komando

                   a.       Standar penampilan sudah mantap dan pada umumnya satu model untuk satu  tugas.

                   b.      Pokok bahasan dipelajari secara meniru dan mengingat melalui penampilan.

                   c.      Pokok bahasan dipilih-pilah menjadi bagian-bagian yang dapat ditiru.

                   d.      Tidak ada perbedaan individual diharapkan menirukan model.

 

         5.      Unsur-unsur Khas dalam Pelajaran dengan Gaya Komando

                   a.       Semua keputusan dibuat oleh guru

                   b.      Menuruti petunjuk dan melaksanakan tugas merupakan kegiatan utama dari siswa.

                   c.      Menghasilkan tingkat kegiatan yang tinggi.

                   d.      Dapat membuat siswa merasa terlibat dan termotivasi

                   e.      Mengembangkan perilaku berdisiplin karena prosedur yang telah ditetapkan.

         6.      Saluran-saluran Pengembangan Gaya Komando

                   a.       Menurut Mosston, selama masa belajar-mengajar, setiap orang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan fisik, sosial, emosional, dan kognitifnya.          

                   b.      Mosston berbicara tentang empat saluran perkembangan:

                            1)      Saluran fisik meningkatkan dengan pesat selama menggunakan Gaya Komando.

                            2)      Saluran sosial-terbatas

                            3)      Saluran emosional terbatas

                            4)      Saluran kognitif terbatas.

 


 

G.     Gaya Latihan

         Dalam Gaya Latihan, ada beberapa keputusan selama pertemuan berlangsung yang dipindahkan dari guru ke siswa. Pergeseran keputusan ini memberi peranan dan perangkat tanggung jawab baru kepada siswa.

 

         1.      Anatomi Gaya Latihan

                                                                  A                B      

                   Pra-pertemuan            :        G                G

                   Pertemuan                   :        S                 S

                   Pasca Pertemuan        :        G                G

 

         2.      Sasaran Gaya Latihan

                   Sasaran gaya latihan berbeda dari sasaran gaya komando, dalam hubungannya dengan perilaku guru dan peranan siswa. Sasaran yang berhubungan dengan tugas penampilan adalah :

                   a.       Berlatih tugas-tugas yang telah diberikan sebagaimana yang telah didemonstrasikan dan dijelaskan.

                   b.      Memperagakan/mendemonstrasikan tugas penampilan yang diberikan.

                   c.      Lamanya waktu latihan berkaitan dengan kecakapan penampilan

                   d.      Memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang hasil (balikan) yang diberikan guru dalam berbagai bentuk.

         3.      Peranan Guru dan Siswa

                   a.       Siswa membuat keputusan selama pertemuan berlangsung mengenai:

1)            Sikap (postur)

2)            Tempat

3)            Urutan pelaksanaan tugas

4)            Waktu untuk memulai tugas

5)            Kecepatan dan irama

6)            Waktu berhenti

7)            Waktu sela di antara tugas-tugas

8)            Memprakarsai pertanyaan-pertanyaan.

                   b.      Peranan guru sedikit berubah dari Gaya Komando untuk menjadi Gaya Latihan

1)            Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sendiri

2)            Memberi balikan secara pribadi kepada siswa

3)            Memiliki kesempatan untuk meningkatkan interaksi individual dengan setiap siswa.

4)            Harus memberi kesempatan kepada siswa untuk menyesuaikan diri dengan peranan baru mereka.

      4.         Implikasi Gaya Latihan

                   a.       Satu-satunya keputusan siswa dalam Gaya Komando adalah untuk bergerak sesuai dengan petunjuk. Dalam episode-episode Gaya Latihan, siswa harus:

                            1)      Mengenal / mengetahui yang diharapkan dari kelas,

                            2)      Menerima pemberian tugas,

                            3)      Membuat keputusan sambil menjalankan tugas

                            4)      Menerima balikan

                   b.      Sekarang disediakan waktu bagi siswa untuk mengatur: kapan memulai, kapan berhenti, waktu sela antara tugas-tugas.

                   c.      Siklus kegiatan adalah:

                            1)      Pencapaian tugas oleh guru (peragaan, penjelasan)

                            2)      Pelaksanaan tugas oleh siswa,

                            3)      Pengamatan dan penilaian oleh guru (umpan balik).

                   d.      Peranan baru siswa, keputusan-keputusan dan peranan guru harus dijelaskan di kelas.

                            1)      Karena perubahan dari perintah ke latihan, maka siswa perlu memahami peranan mereka dan meyakininya oleh guru.

                            2)      Perubahan menimbulkan ketegangan dan kadang-kadang ketidakpastian, jadi harus diusahakan agar siswa merasa enak dengan tanggung jawab baru mereka.

                            3)      Gaya Latihan mungkin perlu dimulai dengan memakai satu tugas saja dan menambah waktu bagi siswa untuk mengambil keputusan dalam beberapa jam pelajaran. Dengan demikian mereka berkesempatan untuk menyesuaikan diri dengan peranan baru mereka.

 

         5.      Pemilihan Pokok Bahasan dan Desain Gaya Latihan

              Jenis-jenis kegiatan yang dapat dipakai dalam Gaya Latihan ini adalah:

              a.       Tugas-tugas tetap yang dapat dilaksanakan menurut suatu model khusus.

              b.      Dapat dinilai dengan kriteria benar dan tidak benar, dan pengetahuan tentang hasil-hasil.

         6.      Merencanakan Pelajaran dalam Gaya Latihan

                   a.       Lembaran tugas atau kartu Gaya Latihan dibuat untuk meningkatkan efisiensi Gaya Latihan. Ini dapat didesain untuk ditempatkan didinding atau dibuat untuk masing-masing siswa.

                            1)      Membantu siswa untuk mengingat tugasnya (apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya).

                            2)      Mengurangi pengulangan penjelasan oleh guru.

                            3)      Mengajar siswa tentang bagaimana mengikuti tanggung jawab tertulis untuk menyelesaikan tugas-tugas.

                            4)      Untuk mencatat kesempatan mengabaikan peragaan dan penjelasan       oleh siswa, dan kemudian guru harus menyisihkan waktu lagi untuk mengulangi penjelasan yang telah diberikan. Manipulasi siswa secara demikian akan mengurangi interaksi guru dalam:

                                      (a)     meningkatkan tanggung jawab siswa,

                                      (b)    guru mengarahkan perhatian siswa kepada keterangan di lembaran tugas dan pada tugas-tugas lain yang harus dilakukan.

 

                   b.      Desain lembaran tugas

                            1)      Berisi keterangan yang diperlukan mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya, dengan berfokus pada tugas.

                            2)      Merinci tugas-tugas khusus

                            3)      Menyatakan banyaknya tugas”

                                      (a)     Ulangan

                                      (b)    Jarak

                            4)      Memberi arah bagi siswa dalam melaksanakan tugas.

                            5)      Kriteria yang didasarkan atas hasil yang dapat diketahui dan dilihat oleh siswa.

         7.      Rencana Keseluruhan Pelajaran

                   a.       Memberikan rencana keseluruhan untuk episode-episode (unit-unit) yang akan diajarkan.

                   b.      Kalau lembaran tugas telah merinci tugas-tugas bagi siswa, maka rencana pelajaran yang akan diberikan oleh guru tentang semua keterangan yang akan diberikan oleh guru tentang semua keterangan yang diberikan oleh guru tentang semua keterangan yang diperlukan untuk memimpin kelas.

                   c.      Apabila kelak Anda akan mengajar di kelas ini Anda perlu merencanakan pelajaran dan lembaran tugas bagi siswa.

                   d.      Lembaran tugas terlampir dapat dipakai sebagai contoh format.

                   e.      Komponen-komponen Rencana Pelajaran terdiri dari :                    

1)            Rencana: tanggal, waktu, nama: semua harus jelas.

2)            Tekanan pelajaran: harus disebutkan semua kegiatan yang akan diajarkan.

3)            Peralatan: semua yang diperlukan dalam pelajaran.

4)            Alat bantu mengajar: apa yang dibutuhkan guru selain alat-alat kegiatan seperti proyektor, lembaran tugas, dan lain-lain.

5)            Sasaran penampilan: dinyatakan dengan jelas dengan memakai istilah-istilah penampilan (operasional) tentang apa yang diharapkan untuk dapat dilakukan pada akhir pelajaran.

6)            Penilaian  penampilan: bagaimana mengukur sasaran yang telah dicapai.

7)            Nomor sasaran: Penjelasan harus sesuai dengan sasaran penampilan yang dimaksud.

8)            Isi = kegiatan

          Prosedur = peragaan, penjelasan

          Organisasi = pengaturan peralatan dan siswa, langkah-langkah dalam tiap episode.

          Diagram = Memperlihatkan pengaturan logistik.

9)            Waktu yang diperkirakan: beberapa  banyak waktu yang diperlukan untuk setiap komponen pelajaran.

10)       Butir-butir pelajaran penting: petunjuk bagi guru tentang konsep, pemikiran dan keterangan, untuk ditekankan dan jangan lupa untuk dimasukkan.

 


 

KERTAS TUGAS

Nama         :

Kelas         :       

Tanggal      :

Mata Pelajaran

Perintah untuk murid:

Uraian Tugas

Jumlah Tugas

Komentar Kemajuan

Umpan Balik

1.

         a.

         b.      

         c.      

 

2.

         a.      

         b.

         c.

 

 

 

 

 

 

H.     Gaya Resiprokal

         Dalam gaya mengajar resiprokal, tanggung jawab memberikan umpan balik bergeser dari guru ke teman sebaya. Pergeseran peranan ini memungkinkan:

         1.      Peningkatan interaksi sosial antara teman sebaya dan

         2.      Umpan balik langsung.

 

         1.      Anatomi Gaya Resiprokal

                   Di dalam perangkat keputusan sebelum pertemuan. Pengadaan umpan balik langsung digeser kepada  seorang pengamat (a)

                   a.       Kelas diatur berpasangan dengan peranan-peranan khusus untuk setiap partner.

1)            Salah satu dari pasangan adalah “pelaku” (p)

2)            Lainnya menjadi pengamat (a)

3)            Guru (G) memegang peranan khusus untuk berkomunikasi dengan pengamat.

                                      P       –––––––                                                                                                                      P    ––––––     a

                                                                  G

                                      P       –––––––  

                                               ––––          G

 

4)            Peranan pelaku sama seperti dalam Gaya Latihan

5)            Peranan pengamat adalah memberikan umpan balik kepada pelaku dan berkomunikasi dengan guru.

6)            Guru mengamati baik “p” maupun “a” tetapi hanya berkomunikasi dengan “a”.

                         -        Guru membuat semua keputusan sebelum pertemuan.

                         -        Pelaku membuat keputusan selama pertemuan

                         -        Pengamat membuat keputusan umpan balik sesudah pertemuan

                                                              A       U      C

                         Pra Pertemuan            G       G      G

                         Dalam Pertemuan       G       S       P

                         Pasca Pertemuan        G       G      a

 

      2.         Sasaran Gaya Resiprokal

                   Sasaran gaya resiprokal ini berhubungan dengan tugas  dan peranan murid.


 

                   a.       Tugas (pokok Bahasan)

                            1)      Memberi kesempatan untuk latihan berulang kali dengan seorang pengamat.

                            2)      Murid menerima umpan balik langsung

                            3)      Sebagai pengamat, murid memperoleh pengetahuan mengenai penampilan tugas.

 

                   b.      Peranan siswa

                            1)      Memberi dan menerima umpan balik

                            2)      Mengamati penampilan teman, membandingkan dan mempertentangkan dengan kriteria yang ada, menyampaikan hasilnya kepada pelaku.

                            3)      Menumbuhkan kesabaran dan toleransi terhadap kawan.

                            4)      Memberikan umpan balik.

 

         3.      Pelaksanaannya Gaya Resiprokal

                   a.       Dalam gaya resiprokal ada tuntutan-tuntutan baru bagi guru dan pengamat.

                            1)      Guru harus menggeser umpan balik kepada siswa (a)              

                            2)      Pengamat harus belajar bersikap positif dan memberi umpan balik.

                            3)      Pelaku harus belajar menerima umpan balik dari teman sebaya

                                      -        ini memerlukan adanya rasa percaya

                   b.      Keputusan-keputusan

                            1)      Sebelum pertemuan:

                                      -        Guru menambahkan lembaran desain kriteria kepada pengamat untuk dipakai dalam gaya ini.

                            2)      Selama pertemuan:

                                      a).     Guru menjelaskan peranan-peranan baru dari pelaku (p) dan pengamat (a).

                                      b).     Perhatian bahwa pelaku berkomunikasi dengan pengamat dan bukan dengan guru.

                                      c).     Jelaskan bahwa peranan pengamat adalah untuk menyampaikan umpan balik berdasarkan kriteria yang terdapat dalam lembaran yang diberikan.

                            3)      Sesudah pertemuan:

                                      a).     Menerima kriteria

                                      b).     Mengamati penampilan pelaku

                                      c).     Membandingkan dan mempertentangkan penampilan dengan kriteria yang diberikan.

                                      d).     Menyimpulkan apakah mengenai penampilan benar atau salah.

                                      e).     Menyampaikan hal-hal mengenai penampilannya kepada pelaku.

                            4)      Peranan guru adalah :

                                      a.       Menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pengamat.

                                      b.      Berkomunikasi dengan pengamat saja.

                                               (1)    Ini memungkinkan timbulnya saling percaya antara pelaku dan pengamat.

                                               (2)    Komunikasi guru dengan pelaku akan mengurangi peranan pengamat.

                            5)      Pada waktu tugas telah terlaksana, pelaku dan pengamat berganti peranan.

                            6)      Proses pemilihan partner dan pemantauan keberhasilan proses adalah penting.

                            7)      Guru bebas untuk mengamati banyak siswa selama pelajaran berlangsung.

                   c.                Pemilihan pokok bahasan:

                            1)      Ini menentukan garis-garis pedoman untuk perilaku pengamat.

                            2)      Lima bagian lembaran kriteria adalah:

                                      a)      Uraian khusus mengenai tugas (termasuk pembagian tugas secara berurutan).

                                      b)      Hal-hal yang khusus yang harus dicari selama penampilan (kesulitan yang potensial).

                                      c)      Gambar atau sketsa untuk melukiskan tugas.

                                      d)      Contoh-contoh perilaku verbal untuk dipakai sebagai umpan balik.

                                      e)      Mengingatkan peranan pengamat (apabila siswa telah memahami gaya ini, bagian ini bisa dihapuskan).

 

         4.      Pertimbangan-pertimbangan khusus untuk Gaya Resiprokal

                   Interaksi antara guru dan pengamat:

                   a.       Pengamat harus dianjurkan untuk berkomunikasi menurut kriteria yang telah  disusun.

                   b.      Pastikan bahwa pengamat memberikan umpan balik yang akurat yang berhubungan dengan kriteria.

                            1)      Seringkali pengamat terlalu kritis dan harus belajar mengikuti kriteria yang telah ditentukan.

                            2)      Guru perlu menekankan tanggung jawab positif dari pengamat.

                            3)      Guru perlu membantu pelaku dan pengamat untuk berkomunikasi.

                   c.      Pada akhir beberapa pelajaran pertama dengan menggunakan Gaya C, guru harus meninjau kembali  penampilan para pengamat dan menekankan perubahan-perubahan yang perlu diadakan dalam perilaku mereka.

                   d.      Teknik untuk mengatur kelas dalam pasangan-pasangan. Apakah Anda dapat memberikan beberapa contoh?

                   e.      Dalam beberapa pelajaran pertama dengan menggunakan Gaya C ini sasarannya akan memerlukan pemusatan perhatian pada penerimaan siswa terhadap peranan pelaku dan pengamat.

                   f.       Kelompok kecil yang terdiri dari dua orang juga dapat memakai gaya ini.

                            1)      Dalam kelompok-kelompok ini mungkin ada pencatat, pemberi nilai atau pengawas.

                            (2)    Peranan pelaku dan pengamat tidak berubah, tetapi setiap siswa dalam kelompok yang lebih besar menerima peranan-peranan ini secara bergantian.

                            (3)    Kekurangan peralatan, ruang atau jumlah siswa yang besar menyebabkan perlunya penggunaan lebih dari dua siswa dalam kasus ini.

 

 

I.       Gaya Periksa Sendiri

         Dalam Gaya Periksa Sendiri (self check), lebih banyak keputusan yang digeser ke siswa. Kepada siswa diberikan keputusan sesudah pertemuan, untuk menilai penampilannya.

         1.      Anatomi Gaya Periksa Sendiri

                   Dalam gaya ini, keputusan-keputusan dibuat seperti dalam Gaya Latihan, dan kemudian keputusan sesudah pertemuan, untuk diri mereka sendiri. Siswa menyamakan dan membandingkan penampilan dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh guru.

 

A

B

C

D

Pra-Pertemuan

Dalam Pertemuan

Pasca Pertemuan

G

G

G

G

S

G

G

P

a

G

S

S

 

         2.      Peranan Siswa

                   a.       Menilai penampilan sendiri.

                   b.      Menerapkan kriteria untuk memperbaiki penampilannya

                   c.      Belajar bersikap objektif terhadap penampilannya

                   d.      Membuat keputusan baru dalam bagian, selama dan sesudah pertemuan berlangsung. Guru membuat keputusan sebelum pertemuan berlangsung.

 

         3.      Penerapan Gaya Periksa Sendiri

                   Gaya memungkinkan siswa menjadi lebih mandiri dalam melaksanakan tugasnya. Keputusan dari Gaya Latihan dipertahankan, dan keputusan tentang penilaian dalam Gaya Resiprokal bergeser dari mengamati teman sebaya ke mengamati diri sendiri.

             a.       Dalam gaya ini, siswa menjalankan tugas dengan menyamakan dan membandingkannya dengan kriteria yang telah ditentukan oleh guru. Hal ini merupakan tanggung jawab baru bagi siswa, untuk menganalisis dan menilai tugasnya.

             b.      Keputusan sebelum pertemuan

                      Guru membuat keputusan ini menyusun lembaran kriteria.

             c.      Keputusan pada saat pertemuan berlangsung

                            1)      Menjelaskan tujuan gaya ini kepada kelas

                            2)      Menjelaskan peranan siswa dan tekanan penilaian diri.

                            3)      Menjelaskan peranan guru

                            4)      Menjelaskan tugas dan logistik

                            5)      Tentukan parameter-parameternya.

                   d.      Keputusan sesudah pertemuan

                            Peranan guru di sini adalah:

                            1)      Mengawasi pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh siswa

                            2)      Mengawasi penggunaan lembaran kriteria

                            3)      Mengadakan pembicaraan secara perorangan mengenai kecakapan dan ketepatan dalam menggunakan proses periksa sendiri.

                            4)      Di akhir pertemuan, berikan umpan balik secara umum.

 


 

         4.      Implikasi Gaya Periksa Sendiri

                   a.                Guru mendorong kemandirian siswa

                   b.      Guru mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan untuk memantau diri sendiri,

                   c.      Guru mempercayai siswa,

                   d.      Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berpusat pada proses periksa sendiri dan pelaksanaan tugas,

                   e.      Siswa belajar sendiri,

                   f.       Siswa mengenali keterbatasan, keberhasilan dan kegagalannya sendiri.

                   g.      Siswa memakai umpan balik dari periksa sendiri untuk berusaha memperbaikinya.

 

         5.      Memilih dan Menyusun Pokok Bahasan

                   Tidak semua tugas dalam pendidikan jasmani yang cocok untuk gaya mengajar ini.

                   a.       Tugas-tugas yang baru tidak cocok,

                   b.      Apabila pusat perhatian diarahkan kepada tugas dan hasil akhir, yaitu pada posisi badan dan postur yang untuk tugas ini tidak  cocok, misalnya:

                            1)      Senam,

                            2)      Menyelam,

                            3)      Menari (beberapa komponen),

                            4)      Apabila umpan balik yang diperlukan berasal dari sumber luar, maka gaya mengajar ini tidak cocok.

                   c.      Kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan pengetahuan tentang hasil dari gerakan (pengetahuan tentang hasil) akan lebih cocok dengan gaya mengajar ini (shooting dalam bola basket, tugas yang menyangkut jarak dan kecermatan atau proyeksi yang dapat diamati seperti penempatan servis tenis, tendangan ke gawang dan sebagainya).

 

         6.      Pertimbangan-pertimbangan Mengenai Periksa Sendiri

                   Interaksi verbal guru kepada siswa harus mencerminkan maksud dari penilaian diri sendiri.

                   a.       Tentukan apakah siswa dapat menyamakan dan membandingkan penampilannya dengan kriteria.

                   b.      Membantu siswa untuk melihat ketidaksesuaian yang terjadi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

                   c.      Arahkan keputusan-keputusan siswa dengan merujuk kepada kriteria.

 

         7.      Memilih Desain Tugas Gaya Periksa Sendiri

                   a.       Ada dua pilihan

                            1)      Guru bisa memilih satu tugas untuk semuanya, atau

                            2)      Guru mendesain tugas yang berbeda-beda, menyediakan berbagai tugas. Bisa juga dengan menyediakan tugas yang berbeda untuk memenuhi perbedaan individual dalam tingkat penampilannya.

                   b.      Lembaran Kriteria

                            Lembaran kriteria untuk Gaya Latihan dapat juga dipakai untuk Gaya Periksa Sendiri ini.

 

J.      Gaya Cakupan / Inklusi

         Gaya mengajar “Inklusi” (cakupan) memperkenalkan berbagai tingkat tugas. Sementara gaya komando sampai dengan gaya periksa sendiri menunjukkan suatu standar tunggal dari penampilan, maka gaya ”inclusion” memberikan tugas yang berbeda-beda. Dalam gaya ini, siswa didorong untuk menentukan tingkat penampilannya.

 

         Suatu contoh yang menggambarkan contoh dari gaya ini dapat dilihat pada penggunaan tali untuk melompat. Jika tali direntangkan setinggi satu meter dari tanah, dan setiap siswa diminta untuk melompatinya, maka semua akan berhasil. Akan tetapi keberhasilan ini tidak diperoleh semua siswa dengan tingkat kesulitan yang sama. Sebagian siswa dapat melompatinya dengan mudah, sedang sebagian lagi harus mengerahkan kemampuannya untuk dapat melompatinya. Bila ketinggian tali tadi dinaikkan, maka kesulitannya dalam tugas akan meningkat dan akhirnya akan menyebabkan makin sedikit jumlah siswa yang akan berhasil dalam penampilannya. Ini berarti kita telah memberikan suatu standar tunggal bagi semua siswa, dan banyak siswa yang akan dikeluarkan dengan menaikkan tingkat kesulitan dari tugas tersebut.

 

         Sekarang, jika tali tadi direntangkan miring dan para siswa diperintahkan untuk melompat, para siswa akan menyebarkan diri sepanjang rentangan tali tadi pada berbagai ketinggian. Hal ini akan memungkinkan para siswa untuk menyesuaikan kemampuannya dengan ketinggian tali tadi.

 

         1.      Anatomi Gaya Inklusi

 

A

B

C

D

E

Pra-Pertemuan

Dalam Pertemuan

Pasca Pertemuan

G

G

G

G

S

G

G

P

a

G

S

S

G

S

S

 

                   a.       Peranan Guru

                            1)      Membuat keputusan-keputusan pra-pertemuan.

                            2)      Harus merencanakan seperangkat tugas-tugas dalam berbagai tingkat kesulitan, yang disesuaikan dengan perbedaan individu dan yang memungkinkan siswa untuk beranjak dari tugas yang mudah ke tugas yang sulit.

                   b.      Keputusan-keputusan Siswa

                            1)      Memilih tugas yang telah tersedia,

                            2)      Melakukan penafsiran sendiri dan memilih tugas awalnya

                            3)      Siswa mencoba tugasnya

                            4)      Sekarang siswa menentukan untuk mengulang, memilih tugas yang lebih sulit atau lebih mudah, berdasarkan berhasil atau tidaknya dengan tugas awal.

                            5)      Mencoba tugas berikutnya

                            6)      Siswa menilai / menaksir hasil-hasilnya.

                            Prosesnya dilanjutkan.

        

         2.      Sasaran Gaya Inklusi

                   a.                Melibatkan semua siswa,

                   b.      Penyesuaian terhadap perbedaan individu,                                          

                   c.      Memberi kesempatan untuk memulai sesuai dengan kemampuan sendiri.

                   d.      Memberi kesempatan untuk mulai bekerja dengan tugas yang ringan ke tugas yang berat, sesuai dengan tingkat kemampuan tiap siswa,

                   e.      Belajar melihat hubungan antara kemampuan untuk merasakan dan tugas apa yang dapat dilakukan oleh siswa.

                   f.       Individualisasi dimungkinkan karena memilih di antara alternatif tingkat tugas yang telah disediakan

 

         3.      Pelaksanaan Gaya Inklusi

                   a.       Menjelaskan gaya ini kepada siswa

                   b.      Satu demonstrasi dengan menggunakan tali yang miring akan memberikan ilustrasi yang sangat baik,

                   c.      Siswa disuruh memulai,

                   d.      Memberi umpan balik kepada siswa tentang peranan siswa dalam pengambilan keputusan, dan bukan penampilan tugas.

                            1)      Tanyakan bagaimana mereka memilih tugas-tugas ini.

                            2)      Fokuskan perhatian pada penggunaan umpan balik yang netral, agar siswa dapat mengambil keputusan tentang tingkat tugas yang sesuai dengan kemampuannya.

                            3)      Amati kesalahan-kesalahan dalam penampilan siswa dan kriteria untuk penampilan dalam tugasnya.

 

         4.      Implikasi Gaya Inklusi

                   a.       Salah satu keuntungan yang sangat penting dari gaya ini adalah memperhatikan perbedaan individu, dan memperhatikan kemungkinan untuk lebih maju dan berhasil.

                   b.      Memungkinkan siswa untuk melihat ketidaksamaan antara aspirasi atau pengetahuan mereka dengan kenyataan. Mereka akan belajar untuk mengurangi kesenjangan antara kedua hal ini.

                   c.      Fokus perhatian ditujukan kepada individu dan apa yang dapat dilakukannya daripada membandingkannya dengan yang lain.

                   d.      Siswa mengembangkan  konsep mereka sendiri, yang berkaitan dengan penampilan fisik.

         5.      Memilih dan Merancang Pokok Bahasan

                   Konsep tentang tingkat kesulitan:

                   Tugas-tugas yang dipilih harus dimulai dari yang sederhana ke yang lebih unik, dengan setiap tugas mempunyai tingkat kesulitan yang ditambahkan.

 


 

KISI-KISI FAKTOR

 

Nama tugas         :        Mengidentifikasi rentangan tugas

 

                                      (dapat menggunakan konsep tertutup dan terbuka)

 

Faktor-faktor Eksternal       :                                                                                                            Rentangan :

Jumlah ulangan                     :

Waktu                                    :

 

Faktor-faktor Intrinsik :

 

         Jarak          2 m-10 m

         Tinggi        4 m-6 m

         Berat          Berat, sedang, rintangan

         Ukuran Alat        Kecil, biasa

         Ukuran Sasaran 15 cm, 30 cm, 45 cm

         Kecepatan           Cepat, sedang, lambat

         Postur, posisi     Atas tangan, bawah tangan                                                           

         Lain-lain   

 

K.     Gaya Penemuan Terpimpin

         Gaya Inklusi (cakupan) merupakan gaya yang terakhir dari kelompok gaya yang memusatkan perhatian pada pengembangan keterampilan fisik daripada siswa. Saluran tekanan dalam gaya komando sampai dengan gaya inclusion yang akan kita bahas, adalah Gaya Penemuan Terpimpin (konvergen) dan Gaya Divergen (berlainan), yang penekanannya terpusat pada perkembangan kognitif. Mosston menyatakan bahwa dengan menggunakan strategi-strategi mengajar tersebut ini, maka kita telah melampaui “ambang penemuan”.

         Gaya penemuan Terpimpin ini disusun sedemikian rupa, sehingga guru harus menyusun serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang menurut adanya serangkaian jawaban-jawaban yang disusun guru ini hanya ada satu jawaban saja yang dianggap benar. Rangkaian pertanyaan-pertanyaan tersebut harus menghasilkan serangkaian jawaban-jawaban yang mengarah kepada penemuan konsep-konsep, prinsip atau gagasan-gagasan.

 

         1.      Anatomi Gaya Penemuan Terpimpin

 

A

B

C

D

E

F

Pra-Pertemuan

Dalam Pertemuan

 

Pasca Pertemuan

G

G

 

G

G

S

 

G

G

P

 

a

G

S

 

S

G

S

 

S

G

U

G

U

 

 

 

 

 

 

S

 

                   a.       Keputusan pada pra-pertemuan yang dibuat oleh guru akan memusatkan perhatian  pada pengembangan pertanyaan secara cermat yang akan mengarahkan siswa kepada penemuan informasi yang bersifat khusus.

                   b.      Selama pertemuan berlangsung, siswa membuat keputusan yang menyangkut pokok bahasan, dalam usahanya untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru.

                   c.      Pada pasca pertemuan, guru mengukuhkan atau mengarahkan kembar             jawaban siswa terhadap pertanyaan yang telah diajukan.

        

         2.      Sasaran Gaya Penemuan Terpimpin

                   Sasaran dari gaya ini adalah,

                   a.       Melibatkan siswa dalam proses penemuan yang konvergen.

                   b.      Mengembangkan hubungan yang serasi dan tepat antara jawaban siswa dengan pertanyaan yang diajukan oleh guru.

                   c.      Mengembangkan keterampilan untuk menemukan jawaban yang berurut, yang akan menuju kepada menemukan suatu konsep.

                   d.      Mengembangkan  kesabaran guru dan siswa, karena sifat sabar sangat diperlukan dalam proses penemuan.

 

         3.      Penerapan  Penemuan Terpimpin

                   a.       Dalam menyusun pertanyaan bagi siswa, guru harus mengenali prinsip, gagasan, atau konsep yang akan ditemukan. Kemudian guru menyusun pertanyaan-pertanyaan yang akan membawa siswa ke rangkaian tanggapan yang menuju kepada gagasan tersebut. Untuk hal ini perlu dimulai dari jawaban akhir, terus mundur sampai kepada pertanyaan.

                   b       Dalam situasi mengajar yang sesungguhnya, guru harus mengikuti prosedur berikut:

                            (1)    Menyampaikan pertanyaan sesuai dengan susunan.

                            (2)    Beri waktu untuk jawaban dari siswa

                            (3)    Berikan umpan balik (netral atau menilai) mengarahkannya lagi.

                            (4)    Ajukan pertanyaan berikutnya

                            (5)    Jangan berikan jawaban

                            (6)    Bersikap sabar dan menerima

                   c.      Merencanakan:

                            1)      Mengenali pokok bahasan yang khusus

                            2)      Menentukan urutan langkah-langkah (pertanyaan dan petunjuk) menuju ke hasil akhir.

                                      a)      Setiap langkah didasarkan atas jawaban sebelumnya.

                                      b)      Perlu mengharapkan kemungkinan jawaban yang akan diberikan oleh siswa, dan mengarahkan kembali jawaban yang tidak tepat.

                   d.   Yang harus dilakukan dengan jawaban yang tidak benar:

                            1)      Ulangi pertanyaan / petunjuknya. Kalau masih salah, ajukan pertanyaan lain yang menguatkan / menjabarkannya.

                            2)      Beri waktu kepada siswa untuk memikirkan jawaban.

         4.      Implikasi Penemuan Terpimpin

                   a.       Gaya ini menuntut guru untuk menyediakan waktunya untuk menyusun Pertanyaan-pertanyaan yang memaksa siswa untuk berpikir.

                   b.      Tanggung jawab untuk menemukan merupakan kegiatan utama dari siswa.

                   c.      Siswa memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan tanggung jawab baru ini.

         5.      Pokok Bahasan

                   a.       Jenis-jenis informasi yang perlu ditemukan adalah: konsep, prinsip, kaidah, hubungan, bagaimana, mengapa, dan batasan-batasan.

                   b.      Topik tidak boleh diketahui siswa sebelumnya, kalau tidak, siswa tidak akan memperoleh  penemuan.

                   c.      Episode-episode dari gaya ini bisa dipakai untuk yang lain bisa juga dipakai pada waktu memberi umpan balik kepada masing-masing siswa.

                   d.      Yang paling baik adalah episode yang pendek.

                   e.      Ada baiknya menyusun pertanyaan-pertanyaan tersebut sedemikian rupa, sehingga siswa harus mengerjakan jawabannya secara fisik. Dengan demikian, siswa bisa memakai gerakan sebagai media penemuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

L.      Gaya Divergen

         Gaya mengajar Divergen merupakan suatu bentuk pemecahan masalah. Dalam gaya ini siswa memperoleh kesempatan untuk mengambil keputusan mengenai suatu tugas yang khusus di dalam pokok bahasan. Gaya ini memungkinkan jawaban-jawaban pilihan. Ini berbeda dengan gaya Penemuan Terpimpin, yang pertanyaan-pertanyaannya disusun untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang konvergen.

 

         Gaya ini disusun sedemikian rupa sehingga suatu masalah pertanyaan atau situasi yang dihadapkan kepada siswa akan memerlukan pemecahan. Rancangan-rancangan yang diberikan akan membimbing siswa untuk memenuhi pemecahan atau jawaban secara individual.

 

         1.      Anatomi Gaya Divergen

 

 

A

B

C

D

E

F

G

Pra-Pertemuan

Dalam Pertemuan

 

Pasca Pertemuan

G

G

 

G

G

S

 

G

G

P

 

a

G

S

 

S

G

S

 

S

G

S

G

G

S

G

S

 

S

G

                   a.       Pra-Pertemuan

                            Guru membuat tiga keputusan utama:

                            1)      Pokok bahasan umum

                            2)      Pokok bahasan khusus yang berpusat pada episode

                            3)      Menyusun masalah khusus untuk memperoleh jawaban ganda dan  pemecahan yang divergen.

                   b.      Saat Pertemuan

                            1)      Siswa menentukan jawaban dari masalah

                            2)      Dalam perangkat selama pertemuan berlangsung ini, siswa mengambil keputusan-keputusan yang menyangkit hal-hal khusus dalam pokok bahasan, yang menanggapi masalah yang diajukan oleh guru.

                   c.      Pasca-Pertemuan

                            1)      Siswa menilai pemecahan yang telah ditemukan

                            2)      Pemeriksaan (verifikasi) mencakup membandingkan pemecahan dengan masalah yang dirumuskan oleh guru.

 

         2.      Sasaran Gaya Divergen

                   a.       Mendorong siswa untuk menemukan pemecahan ganda melalui pertimbangan-pertimbangan kognitif.

                   b.      Mengembangkan “wawasan” (insight) ke dalam struktur kegiatan dan menemukan variasi-variasi.

                   c.      Memungkinkan siswa untuk bebas dari guru dan melampaui jawaban-jawaban yang diharapkan.

                   d.      Mengembangkan kemampuan untuk memeriksa dan menganalisis pemecahan-pemecahannya.

 

         3.      Penerapan gaya Divergen

                   a.       Mula-mula, mungkin perlu menyakinkan siswa bahwa gagasan dan pemecahan mereka akan diterima. Seringkali siswa sudah terbiasa dengan mereka diberitahu tentang apa yang harus mereka lakukan, dan tidak diperkenankan untuk menemukan sendiri jawaban-jawaban  yang benar.

                   b.      Pada waktu siswa bekerja mencari pemecahan, guru harus mengawasi dan menunggu untuk memberi kesempatan kepada siswa untuk menyusun jawaban-jawaban mereka.

                            1)      Umpan balik harus dapat membimbing siswa kepada masalah untuk menentukan jawaban yang tepat.

                            2)      Guru harus menahan diri untuk tidak memilih jawaban-jawaban tertentu sebagai contoh. Sebab itu akan mendorong penjiplakan dan bukan pemecahan masalah secara individual.

 

         Pembagian model-model pengajaran tersebut di atas pada hakikatnya bukan merupakan klasifikasi yang bersifat diskrit. Pengajaran yang didasarkan atas model komando pada suatu ketika memiliki kesamaan atau terjadi pada bentuk-bentuk pengontrolan guru pada saat pengajaran penemuan terbimbing atau pemecahan masalah.

         Dalam pembelajaran, guru secara kreatif dapat memilih dan menerapkan satu atau lebih model. Dalam model pengajaran penemuan, misalnya, anak dapat diberikan keleluasaan untuk melakukan eksplorasi dengan atau tanpa bimbingan guru. Anak diajak berfikir mulai dari menemukan fakta-fakta yang bersifat khusus untuk membuat simpulan secara umum (model induktif). Dalam kasus tertentu guru dapat berperan sebagai pusat proses belajar, mengontrol percepatan pelajaran. Guru memberikan suatu konsep atau teori yang bersifat umum, kemudian anak diminta untuk mencari fakta-fakta secara khusus (model deduktif). Dalam praktik pelaksanaan pembelajaran, suatu konsep atau keterampilan dapat diajarkan mulai dari global menuju ke bagian-bagian (parsial) atau sebaliknya dari parsial ke global. Guru yang efektif akan mampu memilih dan menerapkan secara kreatif model-model pengajaran yang  tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi. Apapun model tersebut yang digunakan oleh guru hendaknya diperhatikan kesesuaian model tersebut dengan kondisi anak dan situasi lingkungan. Pemilihan model pengajaran yang sesuai dengan kondisi dan situasi lingkungan itu sering disebut model pengajaran refleksi atau dikenal dengan model pendekatan modifikasi.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: