Mendorong Olahraga Melalui Pendidikan

‘Berbicara soal olahraga dan pendidikan, kita harus mengacu pada Pasal 17 UU Sistem Keolahragaan Nasional, yang membagi olahraga dalam tiga kategori: sebagai pendidikan, rekreasi, dan prestasi. Pembinaan ketiga bidang itu seharusnya bersambung, meskipun dilakukan terpisah-pisah. 

Olahraga sebagai sebuah pendidikan masuk dalam level terbawah, yaitu kebugaran jasmani pada siswa sekolah. Menurut pasal 20 UU Sistem Pendidikan Nasional, peserta didik harus memiliki kebugaran jasmani bagus. Setelah itu baru siswa bersangkutan dapat masuk pendidikan olahraga. Di sekolah-sekolah umum, olahraga masuk pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani menyangkut tiga unsur: disiplin, kerja sama, dan sehat. 

Kalau kita bicara soal olahraga sebagai pendidikan, cukup berhenti sampai di situ: disiplin, kerja sama, dan sehat. Begitu kita bicara soal olahraga yang sesungguhnya, kita akan berbicara soal prestasi. Itu bedanya dengan olahraga sebagai pendidikan karena dalam olahraga yang lebih spesifik akan dikenal istilah berlatih dan prestasi. Di Indonesia memang pembagian tugas untuk ini masih rancu. 

Bakat-bakat olahraga yang bagus pada siswa sekolah seharusnya diarahkan untuk masuk Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar atau PPLP. Di situ sistem pembinaan serta kompetisinya sudah jelas dan tersebar di 33 provinsi. Sejak tahun lalu Kantor Menegpora sudah membenahi sumber daya manusia PPLP setelah menjumpai fakta di lapangan bahwa 30 persen pelatih tidak memiliki sertifikasi sebagai pelatih olahraga. Mereka kebanyakan guru olahraga atau karyawan dinas olahraga. 

Sekolah Khusus Olahragawan 

Jika ingin menyinergikan pendidikan dan olahraga, perlu diaktifkan lagi sekolah-sekolah khusus olahragawan selain PPLP. Dahulu kita mengenal Sekolah Guru Olahraga dan Sekolah Menengah Olahraga Atas, SGO dan SMOA. 

Jika dihubungkan dengan keberadaan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional atau O2SN saat ini, saya terbuka saja. Event itu kan pengganti Porseni. Kalau ingin bicara soal prestasi, silakan bicara soal Pekan Olahraga Pelajar Nasional. Di situlah akan diadu antara hasil pembinaan O2SN dan Pekan Olahraga Pelajar Wilayah. 

Dari hasil PON Kaltim, terbukti bahwa 40 persen peraih medali di PON adalah mantan didikan PPLP maupun yang masih tercatat sebagai siswa PPLP. Di PPLP memang dianut pembagian 60 persen latihan dan 40 persen belajar. Jadi memang kemampuan olahraga yang dituntut lebih, tetap tanpa mengesampingkan kemampuan intelektual.” 

(Sumber: Bolanews.com)

Prof. Suyanto Mendorong Olahraga Melalui Pendidikan

”Kontribusi sektor olahraga pendidikan kita terhadap prestasi olahraga Indonesia saya kira sangat besar. Di masa depan sektor ini akan menjadi penting sebab menyangkut usia-usia yang masih bisa dikembangkan. 

Mereka masih berada pada usia produktif dengan masa edar cukup panjang. Misalnya anak-anak SD dan SMP, peluang mereka masih tinggi. Itu usia-usia saat fondasi dibentuk. Beda dengan usia SMA, yang masuk kategori matang, sudah jadi objek para pemandu bakat. 

Tahun terakhir lalu kami sudah fokus pada 15 cabang. Ke depan kami akan menambah cabang-cabang potensial asal biayanya ada. Faktanya di tingkat SD kita bisa jadi juara ASEAN Primary School Sport Olympiad (APSSO II/2008). Kita akan coba mempertahankan pada APSSO berikut. 

Dukungan ilmu pengetahuan alias iptek sangat vital. Namun, itu kembali pada komitmen untuk menambah dana agar bisa mengembangkan iptek. Jerman atau Cina contohnya. Prestasi olahraga mereka begitu luar biasa berkat dukungan iptek. Hasil iptek itu diaplikasikan pada para atlet mereka dan efeknya amat terasa, terutama untuk cabang-cabang terukur. 

Semangat Persatuan 

Ditambah kolaborasi yang baik antara Depdiknas, Menegpora, dan KONI, prestasi kita akan semakin baik. Selama ini kita selalu bergandengan tangan. Tiap kali menyelenggarakan event, kami berkonsultasi dengan mereka. 

Soal Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional, yang mewajibkan pemerintah lebih memperhatikan olahraga pendidikan serta naiknya alokasi dana pendidikan di APBN, menurut saya akan mampu mendongkrak prestasi olahraga nasional. Tanpa dukungan dana, prestasi tinggi hanya mimpi. 

Contohnya Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (OOSN I/2008), yang baru kita gelar bulan lalu, biayanya puluhan milar. Bayangkan berapa biaya transportasi yang dibutuhkan untuk lima ribu orang dari seluruh Indonesia lalu akomodasi selama seminggu di Ragunan. 

Idealnya mereka tidak perlu kita biayai, seperti di Olimpiade Beijing lalu. Namun, kalau itu diterapkan, yang datang hanya sekolah-sekolah di Jawa. Kontingen dari Maluku dan Papua tidak akan mampu. Padahal, event itu tidak semata-mata berkompetisi olahraga demi prestasi. Kami pun membawa semangat persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).”

Penuyusunan RPP (Tidore)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

A. Nama Sekolah                 : SDN Ambulu 1

B. Mata Pelajaran                : PJOK

C. Kelas/Smt                          : 1/1

D. Pertemuan                         : Pertama

E. Alokasi Waktu                   : 2 jam pembelajaran

F. Standar Kompetensi

  1. Mempraktikkan gerak dasar ke dalam permainan sederhana/ aktivitas jasmani dan nilai yang terkandung di dalamnya

G. Kompetensi Dasar

  1. 3  Mempraktik-kan gerak dasar lempar tangkap dan sejenisnya dalam    permainansederhana, serta nilai sportivitas, kejujuran, kerjasama, toleransi               danpercaya diri

H. Indikator

  • Melakukan gerakan menangkap bola dari berbagai arah berpasangan/kelompok dalam bentuk permainan sederhana serta nilai sportivitas, kejujuran, kerjasama, toleransi dan percaya diri
  • Melakukan gerakan variasi melempar bola dengan perorangan atau kelompok dalam bentuk permainan sederhana serta nilai sportivitas, kejujuran, kerjasama, toleransi dan percaya diri

I. Tujuan Pemelajaran

  • Siswa (A) dapat memahami  teknik mlelmpar  (B) dengan benar dan baik (D) melalui peragaan(C)
  • Siswa dapat memahami  teknik menangkap  (dengan benar dan baik melalui peragaan
  • Siswa dapat melempar menyusur tanah dengan benar dan baik melalui praktik
  • Siswa dapat melempar mendatar dengan benar dan baik melalui praktik
  • Siswa dapat melempar melambung dengan benar dan baik melalui praktik
  • Siswa dapat menangkap bola melambung dengan benar dan baik melalui praktik
  • Siswa dapat menangkap bola menyusur dengan benar dan baik melalui praktik
  • Siswa dapat menangkap bola mendatar dengan benar dan baik melalui praktik
  • Siswa dapat menunjukkkan sikap kejujuran melalui bermain
  • Siswa dapat menunjukkkan sikap kerjasama melalui bermain
  • Siswa dapat menunjukkkan sikap toleransi melalui bermain
  • Siswa dapat menunjukkkan sikap percayadiri melalui bermain

J. Materi Pembelajaran

  • Monkey in the cercle, Kasti

K. Metode Pembelajaran

L. Langkah Pembelajaran

Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi Waktu
Pendahuluan
  • Menyiapkan peserta didik dalam barisan empat bersyaf melengkung (semua peserta didik dapat melihat guru)
  • Dipimpin berdoa untuk keselamatan dalam pembelajaran dan kebermanfaatan.
  • Mengecek kehadiran semua peserta didik dan menanyakan kesehatan mereka secara umum.
  • Melakukan apersepsi dengan membandingkan kegiatan  yang pernah dilakukan  dengan aktivitas yang akan dipelajari dalam pembelajaran.
  • Menjelaskan tujuan pembelajaran  yang akan dicapai pada hari itu.
  • Menyampaikan garis besar cakupan materi  dan penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan peserta didik untuk menyelesaikan permasalahan atau tugas.
10 Menit
Kegiatan Inti
  • Memperagakan gerakan melempar
    • Menyususr
    • Mendatar
    • Melambung
  • Memperagakan gerakan menangkap
    • Menyususr
    • Mendatar
    • Melambung
  • Memfasilitasi anak untuk bertanya
  • Melakukan permainan kecil (bola ke keranjang)
  • Melakukan permainan Monkey in the circle

 50

Menit

Penutup
  • Peserta didik melakukan pelemasan atau penennagan
  • Peserta didik bersama guru, melakukan refleksi.
  • Peserta didik bersama guru menyimpulkan tentang tugas gerak, menjelaskan kesalahan-kesalahan yang yang terjadi selama menyelesaikan tugas dan hal-hal  yang perlu dilakukan untuk  menyelesaikan tugas pada petremuan berikutnya.
  • Peserta didik bersama-sama guru berdoa
  • Menutup pembelajaran
10 Menit

Continue reading “Penuyusunan RPP (Tidore)”

Lunge

Lunge
Memindahkan kaki ke depan, belakang atau ke samping dengan memindahkan sebagian berat badan, berat badan berada pada ke dua kaki, saat memindahkan kaki bagian yang menyentuh pertama adalah bola kaki sampai hampir kearah tumit , pastikan saat melakukan gerakan ini ada pembebanan pada kedua tungkai. Gerakan ini bisa dilakukan baik low maupun high impact.

Kicking

Kicking
Gerakan kicking dalam senam aerobik berbeda dengan teknik gerakan dalam olahraga lainya sepeti kicking pada permainan sepak bola atau olahraga bela diri, teknik kicking dalam senam aerobik adalah dengan mengayun tungkai dalam keadaan lurus setinggi pinggang atau lebih.
Gerakan kicking ini dilakukan dengan low impact hing intencity karena gerakan ini cukup banyak menguras tenaga, apalagi kalau melakukannya menggunakan teknik hight kick.

Marching

Marching
Adalah gerakan jalan di tempat dengan mengangkat kaki kira-kira setinggi betis, lutut ditekuk 90 derajat, setiap kaki yang mendarat atau menyentuh lantai dimulai dari bola kaki dan berakhir ke tumit. Gerakan marching ini dilakukan hanya dengan low impact

ebiet g ade

Ketika Duka Menyeruak – Ebiet g ade

Lirik Lagu & Kord Gitar Ketika Duka Menyeruak – Ebiet g ade
ketika engkau datang menawarkan gagasan
kulihat di matamu tak ada yang kau sembunyikan
aku mulai bertanya, “di mana cakrawalamu?”
langit seketika cerah tatkala engkau tersenyum

kata-katamu mengalir, merambah nadi dan jiwa
ketika angin terhenti, memberi nafas di dada ho ho
kata-katamu memberi sejuta warna dan makna
bagi kehidupanku, bagi perjalananku

di bumi fana dan di alam kekal
ketika engkau pergi langit bumi pun menangis
jejak pengembaraanmu terpatri dalam di dadaku
kata-katamu mengalir, merambah nadi dan jiwa

ketika angin terhenti, memberi nafas di dada ho ho
kata-katamu memberi sejuta warna dan makna
bagi kehidupanku, bagi perjalananku
di bumi fana dan di alam kekal

di bumi fana dan di alam keka

 

MENGENANG TUGAS DI SABAH

Mengingat kembali saat saat  melaksanakan pendidikan di tengah perkebunan sawit Distrik Sandakan Sabah  Malaysia. Kenangan yang sangat indah dan setiap kali mengingat 2 tahun bersama anak anak dari pekerja sawit belajar,bermain, dan berkumpul dengan masyarakat selepas dari ladang, rasanya ingin sekali untuk  bertemu dengan mereka.

Belajar di tengah ladang sawit di dalam bilik yang sempit dengan jumblah murid yang sangat banyak untuk ukuran bilik tersebut…

Bersama-sama masyarakat di sore hari melakukan aktivitas sukan dan keriuhan suasana melepas kepenatan kerja sehari penuh

Jalan-jalan di akhir pekan  ke bandar untuk sekedar mencari pengalaman lain selama mengajar di ladang. Beretmu denga teman-teman cikgu di Bandar, berbagi cerita, belanja hanya sekedar utuk mengisi perut,  makan malam dipinggir pantai, dan bermalam di bandar bersama teman-teman yang berasal dari sekian banyak titik tempat  mengajar.

Semoga Anak-anak  yang berada nun jauh di tengah hutan  Sabah,  kelak menjadi pemimpim masa depan Indonesia yang tangguh.

Amin…..