Prof. Suyanto Mendorong Olahraga Melalui Pendidikan

”Kontribusi sektor olahraga pendidikan kita terhadap prestasi olahraga Indonesia saya kira sangat besar. Di masa depan sektor ini akan menjadi penting sebab menyangkut usia-usia yang masih bisa dikembangkan. 

Mereka masih berada pada usia produktif dengan masa edar cukup panjang. Misalnya anak-anak SD dan SMP, peluang mereka masih tinggi. Itu usia-usia saat fondasi dibentuk. Beda dengan usia SMA, yang masuk kategori matang, sudah jadi objek para pemandu bakat. 

Tahun terakhir lalu kami sudah fokus pada 15 cabang. Ke depan kami akan menambah cabang-cabang potensial asal biayanya ada. Faktanya di tingkat SD kita bisa jadi juara ASEAN Primary School Sport Olympiad (APSSO II/2008). Kita akan coba mempertahankan pada APSSO berikut. 

Dukungan ilmu pengetahuan alias iptek sangat vital. Namun, itu kembali pada komitmen untuk menambah dana agar bisa mengembangkan iptek. Jerman atau Cina contohnya. Prestasi olahraga mereka begitu luar biasa berkat dukungan iptek. Hasil iptek itu diaplikasikan pada para atlet mereka dan efeknya amat terasa, terutama untuk cabang-cabang terukur. 

Semangat Persatuan 

Ditambah kolaborasi yang baik antara Depdiknas, Menegpora, dan KONI, prestasi kita akan semakin baik. Selama ini kita selalu bergandengan tangan. Tiap kali menyelenggarakan event, kami berkonsultasi dengan mereka. 

Soal Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional, yang mewajibkan pemerintah lebih memperhatikan olahraga pendidikan serta naiknya alokasi dana pendidikan di APBN, menurut saya akan mampu mendongkrak prestasi olahraga nasional. Tanpa dukungan dana, prestasi tinggi hanya mimpi. 

Contohnya Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (OOSN I/2008), yang baru kita gelar bulan lalu, biayanya puluhan milar. Bayangkan berapa biaya transportasi yang dibutuhkan untuk lima ribu orang dari seluruh Indonesia lalu akomodasi selama seminggu di Ragunan. 

Idealnya mereka tidak perlu kita biayai, seperti di Olimpiade Beijing lalu. Namun, kalau itu diterapkan, yang datang hanya sekolah-sekolah di Jawa. Kontingen dari Maluku dan Papua tidak akan mampu. Padahal, event itu tidak semata-mata berkompetisi olahraga demi prestasi. Kami pun membawa semangat persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s