Mengoptimalkan Peran Guru

Dahulu guru berperan sebagai sumber belajar (learning resources) bagi siswa. Siswa akan belajar apa yang diajarkan oleh gurunya. Ada pepatah mengatakan, bagaimanapun pintar siswa, maka tidak mungkin dapat mengalahkan pintarnya guru. Apakah kondisi seperti ini masih tetap dipertahankan pada zaman globalisai sekarang ini? Apakah ilmu pengetahuan sebagai warisan masa lalu yang harus dikuasai itu hanya dapat dipelajari dari mulut guru? Tentu saja tidak. Masa teknolgi dan informasi yang cangggih sekarang ini siswa dapat belajar dari berbagai sumber.
Walaupun demikian peran guru pada masa sekarang ini masih sangat penting. Bagaimanapun hebatnya kemajuan teknologi, peran guru akan tetap diperlukan. Bagaimana melaksanakan peran-peran tersebut agar proses pembelajaran yang menjadi tanggung jawab lebih berhasil? Beberapa peran akan dijelaskan selanjutnya.
1. Guru sebagai sumber belajar
Peran guru sebagai sumber belajar merupakan peran sangat penting yang berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran. Baik tidaknya seorang guru bisa dilihat dari penguasaan materi pelajaran. Sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran hendaknya guru melakukan hal-hal sebagai berikut;

  a. Guru hendaknya memiliki bahan referensi yang lebih banyak dibandingkan dengan siswa. Hal ini untuk menjaga agar guru memiliki pemahaman yang lebih baik tentang materi yang akan dikaji bersama siswa. Dalam perkembangan teknologi informasi  yag sangat cepat, bisa saja siswa lebih pintar dari pada gurunya dalam pengusaan informasi. Oleh karena itu, untuk menjaga agar guru tidak ketinggalan informasi, sebaiknya guru memilki bahan-bahan referensi yang lebih banyak dibandingkan siswa. Misalnya melacak bahan-bahan dari internet, atau bahan cetak terbitan terakhir atau berbagai informasi dari media masa.

  b. Guru dapat menunjukkan sumber belajar yang dapat dipelajari oleh siswa yang biasanya memiliki kecepatan belajar diatas-rata-rata siswa yang lain.

  c. Guru perlu melakukan pemetaan tentang materi pelajaran misalnya dengan menentukan mana materi inti yang wajib dipelajari siswa, mana materi tambahan, mana materi yang harus diingat kembali karena pernah dibahas, dan lain sebagainya.

2. Guru sebagai fasilitator

Peran sebagai fasilitator guru  memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Agar dapat melaksanakan peran sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran, ada beberapa hal yang harus dipahami, khususnya hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai media dan sumber pembelajaran.

  a. Guru perlu memahami berbagai jenis media dan sumber belajar beserta fungsi masing-masing media tersebut. Pemahaman akan fungsi medai sangat  diperlukan, belum tentu suatu media cocok digunakan untuk mengajarkan semua bahan pelajaran.

  c. Guru dituntut untuk mampu mengorganisasikan berbagai jenis media serta dapat memanfaatkan berbagai sumber belajar. Perkembangan teknologi informasi menuntut setiap guru untuk dapat mengikuti perkembangna teknologi mutakhir.

  d. Guru hendaknya mempunyai berinteraksi dengan siswa.kemampuan dalam berkomunikasi dan

3. Guru sebagai pengelola. Peran sebagai pengelola pembelajaran (learning manager), peran guru dalam menciptakan iklim belajar yang memungkin siswa dapat belajar secara nyaman. Melalui pengelolaan kelas yang baik guru dapat menjaga kelas agar tetap kondusif untuk terjadinya proses belajar seluruh siswa.

Dalam melaksanakan pegelolaan pembelajaran ada dua macam kegiatan yang harus dilakukan, yaitu mengelola sumber belajar dan melaksanakan peran sebagai sumber belajar itu sendiri. Dalam peran ini guru memiliki fungsi, antara lain :

  a. Merencanakan tujuan belajar.

  b. Mengorganisasikan berbagi sumber belajar untuk mewujudkan tujuan belajar.

  c.  Memimpin,yang meliputi memotivasi, mendorong, dan menstimulasi siswa.

  d. Mengawasi segala sesuatu, apakah sudah berfungsi sebagaimana mestinya atau belum dalam rangka pencapaian tujuan.

4. Guru sebagai demonstrator

Dalam peran ini guru mempertunjukkan kepada siswa  segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disampikan. Ada dua konteks guru sebagai demonstrator,  pertama guru harus menunjukkan  sikap-sikap yang terpuji. Kedua, guru harus dapat menunjukkan bagaimana caranya agar setiap materi pelajaran bisa lebih dipahami dan dihayati oleh setiap siswa.
5. Guru sebagai pembimbing
Guru tidak dapat memaksa agar siswanya menadi ini atau itu. Siswa akan tumbuh dan berkembang menjadi seseorang sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki. Tugas guru adalah menjaga, mengarahkan, dan membimbing agar siswa tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, minat, dan bakatnya. Inilah makna peran pembimbing.
Agar guru berperan  sebagai pembimbing yang baik, maka ada beberapa hal yang harus dimiliki, antara lain :

  a. guru harus memiliki pemahaman tentang anak yang sedang dibimbingnya. Misalnya, pemahaman tentang gaya dan kebiasaan belajar serta pemahaman tentang potensi dan bakat yang dimiliki anak.

  b. Guru harus memilki dan terampil dalam merancanakan, baik merencanakan tujuan dan kompetensi yang akan dicapai maupun merencanakan proses pembelajaran.

6. Guru sebagai motivator

Motivasi merupakan salah satu aspek dinamis yang sangat penting. Sering terjadi siswa yang kurang berprestasi bukan disebabkan oleh kemampuannya yang kurang, tetapi dikarenakan tidak adanya motivasi untuk belajar sehingga ia tidak berusaha untuk mengarahkan  segala kemampuannya. Dengan demikian, bisa dikatakan  siswa yang berprestasi rendah belum tentu disebabkan oleh kemampuannya yang rendah pula, tetapi mungkin disebabkan oleh tidak adanya dorongan atau motivasi.
Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa mempunyai motivasi dalam belajar. Sehingga, guru perlu menumbuhkan motivasi belajar siswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa. Dibawah ini diberikan beberapa petunjuk :

  a. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang jelas dapat membuat siswa paham ke arah mana ia ingin di bawa. Pemahaman siswa akan tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan minat Â siswa untuk belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi belajar mereka. Semakin jelas tujuan yang ingin dicapai, maka akan semakin kuat motivasi belajar siswa.

  b. Membangkitkan minat siswa. Siswa akan terdorong untuk belajar ketika mereka memiliki  minat untukbelajar. Sehingga, mengembangkan minat belajar siswa merupakan salah satu teknik dalam mengembangkan motivasi belajar. Beberapa cara dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat belajar siswa, diantaranya:

  1. menghubungkan bahan pelajaran yang   akan   diajarkan   dengan kebutuhan siswa.

  2. sesuaikan materi pelajaran dengan tingkat   pengalaman   dan kemampuan siswa. Materi   pelajaran  yang terlalu sulit   untuk dipelajari   atau   materi pelajaran yang terlalu jauh dari   pengalaman   siswa, akan tidak diminati siswa.

  3. menggunakan berbagai model dan strategi   pemebelajaran   secara bervariasi.

c. Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar. Siswa akan dapat belajar lebih baik dalam suasana yang menyenangkan, merasa aman, bebas dari rasa takut. Usahakan agar kelas selamanya dalam suasana hidup dan segar, terbebas dari rasa tegang. Misalnya guru kadang-kadang dapat melakukan hal-hal yang lucu.

  d. Berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa.

  Motivasi akan tumbuh jika siswa meras dihargai. Pujian yang wajar dibeikan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memberikan penghargaan. Pujian tidak selamanya harus dengan kata-kata, justru ada anak yang merasa tidak senang degan kata-kata. Pujian sebagai penghargaan dapat dilakukan dengan isyarat, misalnya senyuman dan anggukan yang wajar, atau mungkin dengan tatapan mata yang meyakinkan.

  e. Berikan penilaian. Terkadang siswa yang belajar karena ingin memperoleh nialai bagus. Sehingga mereka belajar dengan giat. Bagi sebagian siswa nilai dapat menjadi motivasi yang kuat untuk belajar. Oleh karena itu, penilaian hendaknya dilakukan dengan segera agar siswa secepat mungkin mengetahui hasil kerjanya. Penilaian harus dilakukan secara objektif sesuai dengan kemampuan siswa masing-masing.

  f. Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa. Penghargaan bisa dilakukan dengan memberikan komentar yang positif. Setelah siswaselesai mengerjakan suatu tugas, sebaiknya berikan komentar secepatnya, misalnya dengan memberikan tulisan ‘bagus’ atau ‘teruskan pekerjaanmu’, dan lain sebagainya. Komentar yang positif dapat meningkakan motivasi belajar siswa.

  g. ciptakan persaingan dan kerja sama. Persaingan yang sehat dapat memberikan pengaruh yang baik untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa. Melalui persaingan siswa dimungkinkan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh hasil yang baik. Oleh karena itu, guru harus mendesain pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bersaing baik antara kelompok maupun antar-individu.

7. Guru sebagai evaluator

Peran guru sebagai evaluator, mengumpulkan data atau informasi tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. Ada dua fungsi dalam memerankan perannya sebagai evaluator, antara lain:

  a. Untuk menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan atau menentukan keberhasilan siswa dalam menyerap materi kurikulum.

  b. Untuk menentukan keberhasilan guru dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang telah diprogramkan.***

  (Tulisan ini bersumber dari buku ‘Strategi Pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan’ oleh Dr. Wina Sanjaya, M.Pd)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s